KARANGANYAR, PKS JATENG Online – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) se-Karesidenan Solo Raya menggelar Kemah Bela Negara (Kembara) Menegah 1 pada 7–9 Agustus 2026 di Taman Hutan Raya (Tahura) KGPAA Mangkunegoro I, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kegiatan mukhoyam ini diikuti oleh ratusan kader dari wilayah Solo, Sukoharjo, Klaten, Wonogiri, Boyolali, Sragen, dan Karanganyar.
Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Tengah, Budi Hartanto, yang bertindak sebagai pembina upacara pembukaan, menyampaikan tiga pesan utama yang diadaptasi dari falsafah Tri Dharma Mangkunegaran untuk membakar semangat para peserta.

PESAN TRI DHARMA MANGKUNEGARAN
Pesan pertama adalah Rumangsa Melu Handarbeni (merasa ikut memiliki). Budi menegaskan bahwa seluruh kader harus menumbuhkan rasa kepemilikan bersama terhadap partai. Struktur atau jabatan di dalam PKS hanyalah pembagian amanah kepemimpinan, namun partai ini pada hakikatnya milik seluruh kader.
“Kader PKS adalah pelopor dan aset terbaik. Rasa memiliki ini yang membuat kita menjadi garda terdepan saat partai menghadapi ujian maupun saat menyambut pemilu. Ketika pemilu tiba, seluruh elemen partai harus keluar dari ‘barak’ untuk berjuang bersama memenangkan PKS,” tegas Budi. Ia juga mengingatkan agar para kader menjauhi sikap mudah terbawa perasaan (baper) dan mendasarkan aktivitas berpartai sebagai nilai ibadah kepada Allah.
Pesan kedua yakni Wajib Melu Hangrungkebi (wajib ikut membela dan mempertahankan). Rasa memiliki harus dilanjutkan dengan komitmen membela partai dalam kondisi apa pun, sejalan dengan semangat dan tagline Apapun Yang Terjadi Tetap Melayani (AYTTM).
Budi menjelaskan bahwa proses tarbiyah menjadikan PKS sebagai mizhollatuddakwah (payung dakwah). Sebagai payung, PKS harus kuat dan kokoh untuk melindungi seluruh anggotanya dan masyarakat luas. Mengutip pesan tokoh Ketua Majelis Syuro (KMS) Ustadz Mohammad Shohibul Iman, Budi menekankan bahwa kekayaan partai bukan terletak pada kantor mewah atau kendaraan operasional yang megah, melainkan pada keandalan para kadernya. Oleh karena itu, hubungan antar anggota dalam Unit Pembinaan Anggota (UPA) harus memperkuat prinsip ta’aruf, tafahum, ta’awun, dan takaful (saling mengenal, memahami, menolong, dan menanggung beban).
Pesan ketiga yaitu Mulat Sarira Hangrasa Wani (berani berintrospeksi diri). Dalam konteks Kembara, Budi mengajak peserta untuk mengukur kemampuan dan kebugaran fisik masing-masing tanpa memandang usia.
“Kembara ini menjadi tolok ukur kesiapan fisik kita. Berani introspeksi artinya jangan sampai stamina fisik kita justru menjadi beban bagi anggota kelompok yang lain. Minimal kita mampu menjaga diri sendiri dan berjuang sesuai batas kemampuan terbaik yang kita miliki,” pungkasnya.

Baca Juga Artikel Latansa Menengah I disini.