Logo DPW PKS Provinsi Jawa Tengah Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Jawa Tengah Kunjungi Sosmed Kami
Kembali ke Berita Berita

Belajar Arti Ketulusan dan Perjuangan dari Sosok Pak Wahyu di Kembara PKS

Pak Wahyu

KABUPATEN SEMARANG, PKS JATENG Online Di antara banyak cerita dalam kembara kali ini, ada satu sosok yang menarik perhatian. Beliau adalah Pak Wahyu. Secara kondisi fisik, sebenarnya beliau memiliki alasan yang cukup untuk memilih tidak berangkat. Namun, beliau tetap hadir. Tidak hanya datang ke titik kumpul, tetapi juga mengikuti perjalanan menuju lokasi yang membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan berjalan kaki.

Beliau tidak sendiri. Ada juga peserta lain yang secara fisik memiliki keterbatasan, bahkan ada yang kondisi kakinya tidak normal sehingga berjalan pun tidak mudah. Namun, mereka tetap memilih hadir dan mengikuti kembara.

Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa kembara bukan hanya tentang kemampuan fisik, tetapi tentang kemauan hati. Mereka yang datang bukanlah orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab lain. Ada yang membawa dua HP, satu untuk dikumpulkan kepada panitia, satu lagi untuk keperluan pekerjaan karena absensi kerja harus tetap dilakukan secara daring. Ada yang meninggalkan kenyamanan rumah, mengatur ulang waktu, bahkan mengorbankan berbagai kepentingan pribadi.

Sebab kembara memang bukan sekadar kegiatan berkumpul dan bertemu saudara. Di dalamnya ada banyak pelajaran tentang kedisiplinan, ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan.

Tentang ketaatan, misalnya. Peserta diminta membawa berbagai perlengkapan untuk perjalanan. Namun, setelah kembara selesai, beberapa barang ternyata masih tertidur rapi di dalam tas ransel karena tidak pernah digunakan. Dari situ ada pelajaran bahwa taat mempersiapkan sesuatu bukan selalu berarti semua yang dibawa akan terpakai, tetapi menunjukkan kesiapan menjalankan amanah.

Tentang disiplin, peserta belajar untuk hadir sesuai waktu yang telah ditentukan. Bahkan ada yang rela melakukan perjalanan malam agar tidak terlambat sampai di titik kumpul.

Tentang keikhlasan, peserta belajar mengikuti instruksi panitia dan instruktur, meskipun terkadang instruksi tersebut diberikan tanpa banyak penjelasan. Saat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, peserta hanya diminta bersiap, mengemas seluruh barang, dan membawa semuanya tanpa terkecuali. Tidak ada informasi jelas tentang tujuan akhir, jarak yang ditempuh, atau kapan perjalanan akan selesai.

Pada titik tertentu, kegiatan ini seolah hanya panitia dan Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahui arah perjalanannya.

Karena itu, ketika kemudian ada beberapa grup yang keluar dari rute yang telah ditentukan, hal tersebut tidak bisa begitu saja dianggap sebagai kesalahan peserta. Peserta memang tidak mengetahui tujuan perjalanan secara detail. Yang mereka pahami hanyalah menjalankan arahan dan terus melangkah.

Sampai di mana perjalanan berakhir dan berapa lama waktu yang dibutuhkan bukan menjadi pertanyaan utama. Yang utama adalah tetap mengikuti instruksi dengan ikhlas.

Ketika dua grup akhirnya terpisah dari rombongan utama, mereka harus mengambil keputusan dalam kondisi yang tidak mudah. Pilihannya adalah kembali ke titik awal, berhenti menunggu panitia, atau terus berjalan meskipun belum mengetahui tujuan.

Setelah bermusyawarah, pemimpin regu memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan yang dekat dengan masjid. Sebagian anggota menunggu di masjid, sementara sebagian lainnya tetap berjaga di pinggir jalan untuk mengantisipasi kedatangan panitia yang mungkin sedang mencari.

Pak Wahyu
Photo by Komdigi DPD PKS

Jika sampai setelah Subuh belum ada panitia yang datang, mereka sudah menyiapkan pilihan lain, yaitu meminta salah satu anggota mencari ojek menuju lokasi kegiatan.

Semua keputusan itu dijalani dengan ikhlas. Dalam kondisi yang mungkin melelahkan dan penuh ketidakpastian, tidak muncul keluhan. Justru ada ketenangan karena setiap langkah dijalani bersama.

Pada akhirnya, kembara bukan hanya mengajarkan tentang perjalanan menuju suatu tempat. Kembara mengajarkan tentang perjalanan membentuk diri.

Peserta belajar mengorbankan kenyamanan. Meninggalkan kasur empuk, selimut tebal, dan suasana rumah yang nyaman untuk tidur beralaskan matras dalam kondisi dingin. Tidak hanya itu, peserta juga mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya.

Mungkin pengorbanannya terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi yang menjalaninya, setiap langkah memiliki nilai.

Dan dari sosok seperti Pak Wahyu serta peserta lain yang tetap hadir meskipun memiliki banyak alasan untuk tidak datang, kita belajar bahwa kembara bukan hanya tentang siapa yang paling kuat berjalan, tetapi tentang siapa yang tetap memilih melangkah ketika keadaan tidak selalu mudah.

 

Aminarto

KembaraPKS JatengPKS Kab Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

‎Di Tengah Turbulensi Ekonomi, PKS Sragen Dorong Kader Tak Sekadar Bertahan, Tapi Bertumbuh
PKS Gembleng “Srikandi” Barlingmascakeb Lewat Latansa, Perkuat Kesiapsiagaan Kader Perempuan
Peduli Kekeringan di Weru, PKS Kabupaten Sukoharjo Salurkan 7 Tangki Air Bersih untuk Warga