
SEMARANG, PKS JATENG Online – Ndilalah, Sabtu (23/5/2026) kemarin, saya ketiban sampur diminta memberikan sambutan sekaligus menemani jagongan para sesepuh dan senior aktivis dakwah se-Jawa Tengah. Sepanjang jalan pulang menembus gang padat menuju rumah di kawasan Pedurungan, pikiran saya rupanya masih kintir (hanyut) tertinggal di ruang pertemuan tadi. Wajah-wajah ikhlas para kasepuhan itu menyiratkan kecemasan mendalam yang membekas di hati; sebuah kerisauan tentang masa depan perjalanan panjang bernama kaderisasi dakwah.
Seorang kawan lama yang rambutnya sudah banyak memutih bahkan sempat berbisik lirih, narik napas panjang, “Mas, piye iki cah-cah enom kok rasane selot adoh (makin berjarak)? Opo kene bakal kelangan penerus?”
Pertanyaan yang sangat wajar, manusiawi, sekaligus memantik saya untuk sedikit ngudarasa (berbagi rasa) sesampainya di rumah sambil nyeruput kopi hitam. Urip iki pancen sawang sinawang, kelihatannya generasi muda (Gen Z) kita itu cuek, kemeruh, atau menjauh dari agama. Padahal, jangan-jangan kacamata kita saja yang wis blawur (buram) dan belum di-update ke versi terbaru.
Gelisah Kasepuhan di Tengah Riuhnya Isu Kesehatan Mental Gen Z
Kalau kita mau jujur dan sumeleh melihat potret realitas hari ini, kita itu ibarat sedang menatap fenomena “jam pasir demografi” yang mampet di tengah. Struktur penggerak dakwah saat ini didominasi oleh generasi senior yang perlahan, suka tidak suka, wis wancine menua. Mereka ini tulang punggung yang sangat solid, militan tiada tara. Tapi ya namanya raga manusia, fisik dan energinya tentu punya masa kedaluwarsa.
Sementara di sisi lain, lapisan generasi muda aktivis dakwah dari kalangan Gen Z dan milenial akhir jumlahnya masih ithil-ithilan (sangat minim). Tanpa adanya jembatan kaderisasi dakwah anak muda yang masif, “atap” bangunan yang berat ini lama-lama bisa ambrol karena fondasinya keropos.
Kenapa cah enom seolah kurang greget meneruskan estafet ini? Apa mereka mengalami krisis iman?
Sik, sik, ojo dumeh dan jangan buru-buru menghakimi. Di sela-sela obrolan ngopi, kita harus sadar betul bahwa tantangan psikologis dan sosiologis anak muda zaman sekarang itu beda kasta dengan zaman kita dulu. Isu kesehatan mental Gen Z bukan sekadar tren manja-manjaan, tapi realitas zaman yang harus kita baca dengan kacamata empati, bukan kacamata penthungan.

Ancaman Generasi Sandwich: Ajur Mumur di Tengah ‘Krisis Meja Makan’
Menggunakan kacamata analisis harian, musuh utama pergerakan hari ini sering kali bukan pertarungan ideologi besar ala Perang Dingin, melainkan urusan perut dan tagihan bulanan.
Banyak anak muda kita yang terpaksa menjelma menjadi “generasi sandwich”—ajur mumur babak belur berjuang demi survival ekonomi keluarga atas dan bawahnya. Sebagian besar energi mereka sudah terkuras habis digerus jam kerja dan tersedot urusan domestik, hingga rentan nggliyer kena burnout massal.
Memaksa mereka ikut kajian rutin dan program kaderisasi dakwah yang kaku sak plekke sepekan sekali di tengah kepenatan hidup, rasanya kok kurang duga (kurang etis) secara manajerial kemanusiaan. Akibatnya apa? Banyak potensi anak muda yang milih mundur teratur, pasif permanen karena napasnya sudah habis cuma buat sekadar bertahan hidup dari hari ke hari. Wong urip kok mung isine sambat, ya karena memang berat, lur!
Belum lagi kalau kita berani ngilo (bercermin) menengok ruang paling intim: “krisis meja makan” di rumah kita masing-masing. Istri saya yang kebetulan seorang dokter spesialis anak sering cerita, betapa nggetihnya (berdarah-darah) tantangan pola asuh keluarga di era digital ini. Faktanya, tak sedikit anak kandung dari para kiai, ustadz, atau penggerak dakwah sendiri yang justru belum tersentuh kelembutan nilai agama secara esensial.
Ada beban psikologis yang bikin dada para senior sesak: bagaimana kita bisa pede ngajak anak tetangga jadi pejuang dakwah, lha wong di meja makan sendiri wejangan bapakne sering cuma dianggap angin lalu alias masuk kuping kiri keluar kuping kanan?
Kegagalan komunikasi di rumah inilah yang pelan-pelan nggerogoti militansi di luar. Gajah di pelupuk mata ora ketok, semung di seberang lautan malah disorot.
Dakwah Gen Z: Jangan Booting ‘Laptop Gaming’ Pakai Windows 95!
Kesalahan paling ndobos (fatal) kita selama ini adalah mencoba menginstal sistem operasi “Windows 95” di atas otak anak-anak Gen Z yang speknya sudah laptop gaming keluaran terbaru.
Karakter psikologis Gen Z itu cair, horizontal, dialogis, dan kritis. Kalau kita masih ngeyel pakai pendekatan paternalistik zaman kolonial—yang isinya cuma menuntut kepatuhan mutlak, doktrin satu arah, tanpa ruang diskusi—ya pasti mentul alias mental! Ngono ya ngono, ning ojo ngono.
Anak muda zaman now itu lebih butuh dirangkul. Mereka butuh diajak ngobrol soal manajemen stres, peliknya isu kesehatan mental Gen Z, sampai cara menyelipkan gaya hidup halal di tengah karier modern mereka.
Kalau kita kaku dan rumangsa bisa tapi ora bisa rumangsa (merasa bisa tapi tidak tahu diri), mereka tidak akan mendebat kita terang-terangan. Mereka cuma bakal manggut-manggut sopan di depan kita, tapi di dalam batinnya mereka melakukan silent quitting—memutus ikatan emosional, lalu blas hilang dari radar peredaran.
Ganti Baju Metodologi: Dakwah Sat-Set yang Ngemong
Kekhawatiran kasepuhan tadi sejatinya adalah wujud dari dawuh agama agar kita tidak sembrono mempersiapkan generasi penerus. Al-Qur’an sudah memberi rambu-rambu yang sangat benderang:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka… hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9).
Pesan mulia ini njawil kesadaran kita agar jangan sampai meninggalkan generasi yang ringkih (dzurriyatan dhi’afan). Ringkih di sini bukan cuma urusan iman yang tipis, tapi bisa jadi ringkih metodologi dan gampang ambyar ketahanan mentalnya, murni karena kita gagal memberi bekal (sangu) yang relevan dengan zaman mereka.
Kita harus bergeser peran. Dari yang asalnya komandan main tunjuk, menjadi healing facilitator, menjadi kanca ngopi yang mau mendengarkan. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
Tawarkan sistem pendampingan dakwah hibrida yang lentur. Misalnya, padukan kumpul santai lesehan sebulan sekali di alam terbuka, diselingi materi gizi rohani lewat konten video pendek 2 menitan.
Menatap masa depan tak perlu pakai kepanikan yang bikin ngos-ngosan. Ibarat main bola, kita nggak bisa memaksa taktik pressing tinggi yang nguras keringat, kalau napas pemainnya lebih cocok buat gaya tiki-taka umpan pendek yang mengalir santai tapi mematikan.
Menyesuaikan metode bukan berarti kita melacurkan nilai Islam yang murni, kita cuma sedang “ganti baju” luarnya agar napas dakwah Gen Z tetap match dengan zaman.
Mari jadikan ruang pergerakan kaderisasi dakwah kita sebagai peneduh bagi siapa saja, khususnya bagi Wong Jawa Tengah yang sedang lelah. Bawalah dengan sumeleh, tetap sat-set di lapangan, dan mari berjalan beriringan: menang tanpa ngasorake—berjaya merebut hati generasi masa depan tanpa harus merendahkan siapa pun!
Oleh Hadi Santoso Ketua DPW PKS Jawa Tengah