
SEMARANG – Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah, Hadi Santoso, menegaskan pentingnya peran strategis anak muda dalam kancah perpolitikan daerah seiring dengan proyeksi lonjakan demografi pemilih muda.
Hal ini disampaikannya saat membuka Musyawarah Wilayah Garuda Keadilan (GK) Jawa Tengah di Aula DPW PKS Jateng, Kota Semarang, pada Ahad (4/1/2025).
GK sendiri adalah organisasi sayap kepemudaan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bertujuan membina, mendidik, dan mengembangkan potensi pemuda Indonesia menjadi kader pemimpin yang berintegritas, berjiwa Pancasila, serta aktif berkontribusi dalam masyarakat dan politik, melalui program pendidikan politik, pengembangan kepemimpinan, dan kegiatan pemberdayaan lainnya.

Dalam sambutannya, Hadi memaparkan data bahwa pada Pemilu 2024 lalu, sebanyak 48 persen pemilih di Jawa Tengah berusia di bawah 30 tahun dan angka tersebut diprediksi akan terus meningkat.
Menurutnya, dominasi Generasi Z dan Generasi Alpha pada tahun 2029 mendatang diperkirakan mencapai angka 54,2 persen yang artinya mayoritas penentu masa depan Jawa Tengah ada di tangan anak muda.
Melihat besarnya potensi tersebut, Hadi menekankan bahwa pemuda tidak boleh lagi hanya ditempatkan sebagai objek politik atau pendulang suara semata dalam setiap kontestasi demokrasi.
“Saya mendorong agar angka mayoritas tersebut harus menjadi representasi nyata dalam agenda pemerintahan maupun sistem politik agar kebijakan yang lahir benar-benar berpihak dan mengurusi kepentingan anak muda,”katanya.
Lebih lanjut, Hadi menilai keberpihakan kebijakan sulit tercapai jika pengambil keputusan didominasi oleh generasi tua yang sering kali memiliki perspektif berbeda dengan kebutuhan zaman sekarang.
“Sebagai contoh adanya kesenjangan pemikiran antara orang tua yang mungkin mengarahkan anaknya menjadi dokter, padahal sang anak memiliki aspirasi menjadi konten kreator karena iklim dan fasilitas dunia kerja yang sudah berubah,”jelasnya.
Oleh karena itu, diperlukan regulasi dan pendekatan birokrasi yang lebih adaptif terhadap anak muda yang hanya bisa terwujud melalui peran aktif pemuda itu sendiri di dalam sistem.
Hadi mengajak seluruh anggota GK Jateng untuk tidak sekadar menjadi penonton tetapi berani mengambil peran sebagai pemain inti.
“Juga sebagai penggerak perubahan melalui karya nyata, bukan sekadar retorika,”pungkasnya.