
Wonogiri — Wakil Ketua Komisi C DPRD Jawa Tengah, Dedy Endriyatno, menegaskan pentingnya peningkatan kinerja penyediaan air bersih dalam program Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Wosusokas, yang meliputi wilayah Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta, dan Karanganyar. Usai melakukan pemantauan bersama jajaran Komisi C, Dedy menekankan bahwa sinergi antara PT Tirta Utama (Perseroda) Jateng dan para offtaker, yaitu empat PDAM di wilayah tersebut, menjadi faktor kunci keberhasilan layanan air minum yang berkelanjutan.
Dedy menjelaskan bahwa pembangunan sistem air minum berskala besar hanya akan efektif jika seluruh pihak menjalankan peran masing-masing secara optimal dan berbasis kesepahaman. “Kami melihat bahwa konektivitas antar-daerah dalam SPAM Wosusokas membutuhkan kolaborasi yang konsisten. PT Tirta Utama sebagai penyedia air baku dan PDAM sebagai penyalur ke masyarakat harus berjalan dalam ritme yang sama,” ujar Dedy.
Menurutnya, salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan adalah tingkat serapan air oleh para offtaker. Hingga akhir 2025, serapan ideal minimal berada di atas 50 persen untuk menjaga keberlanjutan operasional serta mendukung target pendapatan PT Tirta Utama. “Saat ini baru Surakarta yang mendekati angka tersebut. Sementara Wonogiri, Sukoharjo, dan Karanganyar masih di bawah 50 persen. Kondisi ini harus segera dibenahi agar investasi dan operasional SPAM dapat berjalan lebih efektif,” ungkapnya.
Dedy juga menyoroti perlunya kesepahaman yang lebih kuat terkait penetapan harga jual air baku. Ia menilai perbedaan persepsi mengenai kewajaran harga berpotensi menghambat optimalisasi kerja sama antara PT Tirta Utama dan PDAM. “Harga air harus ditentukan secara objektif. Tidak boleh memberatkan PDAM, tetapi juga tidak boleh merugikan PT Tirta Utama. Titik temu itu yang harus terus dijaga,” kata Dedy.
Terkait hal tersebut, ia mengapresiasi proses negosiasi yang telah berlangsung antara perusahaan dan para offtaker, termasuk kesepakatan tarif terbaru di angka Rp 2.100 per detik. Meski terdapat dinamika, seperti permintaan awal Karanganyar di angka Rp 2.000, Dedy menilai kesepakatan yang tercapai sudah cukup proporsional. “Yang terpenting adalah konsistensi kebijakan. Harga yang disepakati harus mampu menjaga stabilitas operasional, terlebih di tengah potensi fluktuasi inflasi,” ujarnya.
Dengan evaluasi ini, Dedy menegaskan bahwa Komisi C akan terus mengawal pelaksanaan SPAM Wosusokas agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Ia berharap seluruh pihak dapat memperkuat koordinasi agar penyediaan air minum di wilayah Wosusokas semakin andal, terjangkau, dan berkelanjutan.