
Semarang – Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Amir Masduki, menyoroti rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan bagi nasib ketahanan pangan nasional di masa mendatang, lantaran jumlah petani produktif semakin menurun.
Data Sensus Pertanian 2023 (BPS) mencatat, proporsi petani milenial (usia 19–39 tahun) di Indonesia baru mencapai 21,9%, sedangkan petani Gen Z (≤26 tahun) hanya 2,14%. Di Jawa Tengah sendiri, jumlah petani milenial tercatat 625.807 orang, atau 10,12% dari total nasional.
“Memprihatinkan sekali, datanya (petani produktif) semakin menurun dan didominasi 55 tahun keatas. Jika trennya terus seperti ini tentu saja akan mengancam ketahanan pangan nasional” ujar Amir pada Senin (11/8)
Survei JakPat 2022 mengungkapkan, sebagian besar Gen Z menganggap pekerjaan sebagai petani berat, risikonya tinggi (33,3%), jalur karier tidak jelas (36,3%), dan pendapatannya rendah (20%). Sementara 12,6% menilai pertanian tidak menjanjikan secara finansial. Faktor lain seperti urbanisasi, minimnya dukungan teknologi, keterbatasan modal, dan sulitnya akses lahan turut memperkuat stigma negatif terhadap profesi petani.
Amir menegaskan, tanpa intervensi serius, sektor ini akan semakin kehilangan daya tarik bagi generasi milenial dan Gen Z. Dirinya menyebut Pemerintah perlu mulai mengupayakan solusi strategis untuk menarik minat generasi muda.
Beberapa langkah seperti pelatihan pertanian modern berbasis teknologi, pemberian insentif modal dan lahan melalui program petani milenial, hingga kampanye redefinisi profesi petani sebagai agen ekonomi modern dan penggerak ketahanan pangan dinilai dapat meumbuhkan minat generasi muda untuk turut andil dalam sekor tersebut.
“Minat generasi mudanya perlu ditumbuhkan. Nah inilah tugas kita bersama, bagaimana Pemerintah mampu memfasilitasi dalam edukasi dan pemberian insentif dan masyarakat turut mendukung realisasinya” tegasnya.