

PKS Jateng Online – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkomitmen memaksimalkan penyediaan pelatihan kerja ekonomi kreatif demi tekan angka pengangguran, utamanya di kalangan Pemuda. Gagasan tersebut merupakan salah satu program kampanye PKS sebagai wujud kepedulian terhadap tingginya angka pengangguran di Indonesia khususnya Jawa Tengah.
Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Tengah, Agung Budi Margono, S.T., M.T. mengungkapkan bahwa program kampanye tersebut digagas sebagai solusi nyata atas tingginya angka pengangguran.
“Angka pengangguran di Jateng ini masih tinggi sekali. Kemarin saya baca data BPS, memang pengagguran turun 0,44 persen, tapi sama sekali tidak sebanding dengan peningkatan angkatan kerjanya yang mencapai 0,88 persen. dua kali lipatnya itu” ujar Agung BM, Sapaan akrabnya.
Lebih lanjut, BPS melaporkan data tingkat pengangguran terbuka tahun 2023 didominasi oleh pemuda generasi Z dalam rentang usia 15-24 tahun dengan presentase sebesar 19,4 persen. Agung BM Menilai ada banyak faktor yang mempengaruhi melambungnya angka pengangguran di kalangan pemuda, salah satunya adalah rendahnya kompetensi teknis dan nonteknis.
“Faktornya sebenarnya banyak, tapi yang paling utama adalah kurangnya keterampilan teknis dan nonteknis seperti etika juga etos kerja. Hal ini yang kemudian membuat perusahaan kurang percaya dan enggan mempekerjakan. Karena kalaupun dipekerjakan, perlu memberikan pelatihan kerja tambahan yang biayanya juga tidak murah” jelas Agung BM.
Generasi Z usia 15-24 tahun atau kelahiran 1997-2012 yang lulus sekolah menengah dan perguruan tinggi pada tahun 2023 memang diketahui kesulitan mendapatkan pekerjaan. Di lain sisi, data Insider mengungkapkan sekitar 40% perusahaan berpikir Gen Z tidak siap masuk dunia kerja bahkan beberapa diantaranya mengaku tidak akan merekrut mereka.
Sementara itu, dilansir dari harian Kontan, perusahaan umumnya enggan mempekerjakan generasi Z karena etos kerja yang buruk, kemampuan komunikasi di bawah standar dan rasa berhak yang tinggi. Senada dengan hal tersebut, Data Resume Builder juga mengungkapkan bahwa 74% perusahaan mengakui bahwa Generasi Z adalah generasi yang lebih sulit diajak bekerja sama dari pada generasi sebelumnya.
Sistem pembelajaran jarak jauh selama pandemi menjadi salah satu penyebab kurangnya kompetensi Generasi Z. Guru Besar Komunikasi Strategis di Ithaca College dan Kepala Sekolah Gayeski Analytics Diane Gayeski menyatakan bahwa ketidaksiapan lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi merupakan konsekuensi dari pandemi Covid-19. Mereka kehilangan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi banyak hal, dan berinteraksi dengan orang lain.
Oleh karena itu, Agung BM menjelaskan bahwa pelatihan kerja ekonomi kreatif merupakan solusi terbaik sebagai bekal kompetensi pemuda. Pasalnya sektor tersebut selalu terbarukan lantaran perkembangannya selalu mengikuti dinamisnya kreatifitas manusia. PKS percaya ekonomi kreatif dapat menjadi mesin penggerak perekonomian di tengah kebuntuan masalah ketenagakerjaan tanah air.
Agung BM menjelaskan bahwa pelatihan keterampilan ekraf akan disediakan dengan akses yang mudah. Tak hanya dari segi teknis, pelatihan juga akan diperkaya dengan pembinaan soft skill ketenagakerjaan yang dibutuhkan saat ini. Harapannya, pelatihan terpadu tersebut dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berketerampilan mumpuni, adaptif, dan bermental kompetitif yang sehat.
“PKS memberikan solusi nyata dengan memaksimalkan pemberian pelatihan kerja yang integratif, tujuannya, agar Gen. Z selain mendapatkan pelatihan kerja juga dapat pelatihan soft skill seperti etika dan etos kerja. Sehingga goalsnya adalah langsung kerja bukan sekedar sertifikat” ujar Agung BM.
(vicky aulia)