Logo DPW PKS Provinsi Jawa Tengah Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Jawa Tengah Kunjungi Sosmed Kami
Kembali ke Berita Berita Fraksi

Kunjungan Wisata Alam di Jateng Turun, Muchlis Ariston Soroti Kesiapan Infrastruktur dan Komunikasi Keselamatan

IMG 20250909 WA0012 1140x570 (1)

Semarang – Kunjungan wisata alam di Jawa Tengah tercatat mengalami penurunan signifikan. Salah satu objek wisata unggulan, Guci di Kabupaten Tegal, dilaporkan kehilangan puluhan ribu pengunjung dalam periode terakhir, menyusul kekhawatiran wisatawan terhadap potensi bencana alam pascabanjir bandang.

Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah, Much. Muchlis Ariston, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan resmi Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, penurunan kunjungan wisata alam mencapai sekitar 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di kawasan Guci sendiri, penurunan tersebut berdampak langsung pada berkurangnya aktivitas ekonomi masyarakat lokal.

“Guci kehilangan puluhan ribu pengunjung yang seharusnya menjadi aset ekonomi lokal kita. Ini tentu tidak bisa dianggap persoalan biasa,” ujar Ariston.

Ia menilai setidaknya terdapat dua persoalan mendasar yang menyebabkan wisatawan masih ragu berkunjung. Pertama, dampak banjir bandang terhadap infrastruktur utama wisata yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.

“Beberapa fasilitas penting seperti pemandian Pancuran 13 masih belum kembali beroperasi. Kondisi ini menimbulkan persepsi bahwa kawasan wisata belum sepenuhnya siap menerima kunjungan, meskipun sebagian area lain sudah dinyatakan aman,” jelas Ariston.

Kedua, Ariston menyoroti lemahnya strategi komunikasi pascabencana kepada publik. Menurutnya, informasi terkait kondisi riil kawasan wisata, standar keselamatan, dan kesiapan mitigasi belum tersampaikan secara jelas kepada calon wisatawan.

“Celah komunikasi ini membuat wisatawan memilih menunda kunjungan karena khawatir terhadap risiko bencana alam,” tambahnya.

Sebagai solusi, Ariston mendorong pemerintah daerah melakukan pembenahan menyeluruh, tidak hanya dari sisi promosi, tetapi juga pengurangan risiko bencana. Upaya tersebut mencakup normalisasi sungai, peningkatan sistem drainase kawasan wisata, serta penataan ulang bangunan agar tidak berada di zona rawan banjir.

Selain itu, langkah konservasi lingkungan di wilayah hulu, khususnya melalui reboisasi dan pengendalian alih fungsi lahan di lereng Gunung Slamet, dinilai penting untuk mengurangi potensi banjir bandang. Pengelolaan sampah yang lebih ketat juga perlu dilakukan karena kerap memperparah aliran sungai.

Di sisi manajemen risiko, ia menekankan pentingnya pemasangan sistem peringatan dini, penerapan standar operasional saat hujan ekstrem, serta pelatihan tanggap bencana bagi pengelola dan masyarakat sekitar kawasan wisata.

“Wisata alam tidak bisa dikelola dengan pendekatan biasa. Harus ada kombinasi antara infrastruktur yang aman, lingkungan yang terjaga, sistem peringatan dini yang berfungsi, dan kesiapan sumber daya manusia di lapangan,” tegas Ariston.

Ia berharap dengan langkah-langkah tersebut, kepercayaan wisatawan terhadap destinasi wisata alam di Jawa Tengah dapat kembali pulih sekaligus memastikan keselamatan pengunjung dan keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

KING INDO JUARA: Karena yang Bertahan Tak Pernah Benar-Benar Kalah
HUT ke-81 TNI dan Pesan Pengabdian: Refleksi PKS Jawa Tengah untuk Masyarakat
Menyambut Hari Batik Nasional, RKI PKS Jepara Gelar Pelatihan Membatik untuk Berdayakan Perempuan