Logo DPW PKS Provinsi Jawa Tengah Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Jawa Tengah Kunjungi Sosmed Kami
Kembali ke Suara Mas Hadi Suara Mas Hadi

Hayya ‘Alal Falah : Mengokohkan Pilar Kemenangan Dakwah

WhatsApp Image 2026 07 05 at 13.25.10

SEMARANG, PKS JATENG Online — “Dalam perspektif gerakan dakwah, tidak ada satu pun negara adi daya yang bisa memberikan sugesti kemenangan kecuali Islam.”

Kembara (Kemah Bela Negara) dan Latansa (Latihan Wanita Siaga) adalah medan silaturahmi dan sinergi serta sangat sangat menggembirakan bagi aktivis dakwah.

Sebuah moment yang sangat ditunggu-tunggu untuk merajut ukhuwah dan merakit makna cinta bukan sekadar teori semata namun benar-benar dirasakan secara nyata.

Umur pembinaan di jalan dakwah yang dilalui benar-benar dirasakan nilai-nilainya pada setiap jiwa yang merindukan surga.

Bahkan ketika kembara cinta dan latansa jiwa bertemu dalam satu waktu dan tempat yang sama dihadiri oleh Presiden DR. Al Muzammil Yusuf dan Ustazah Nurul Hidayati ibunda kita semuanya, maka kenangan cinta bersama di jalan dakwah begitu menyala.

Berikut beberapa coretan dari taujih presiden yang bisa dituangkan, disarikan dari tubuh peserta yang lelah secara fisik namun mata tetap menyala menjadi lillah karena mahabbah.

Mohon maaf bila ada kurang tepat dalam menyatukan dan menuliskannya.

Istiqomah Kelas Jendral

WhatsApp Image 2026 07 06 at 12.57.21
Giat Gabungan Kembara dan Latansa Ahad (5/6/2026), Spekta Merbabu, Jawa Tengah

Seorang yang ditempa dalam kehidupan lebih-lebih mengarungi pahit getirnya perputaran zaman, di usia lanjut, lebih dari 50 tahun ke atas dan masih istiqomah, maka itu adalah level jenderal.

Di tingkat akademis itu kelas Doktoral, berati ikhwah aktivis dakwah adalah para doktor yang siap menganalisa dan memberikan solusi terhadap permasalahan umat.

Di tingkat birokrasi, umur lanjut dan istiqomah berarti level 4ABCDE / ESELON 1 yang sudah memiliki kapasitas dan integritas dengan wawasan luas dan praktis.

Di dalam bela diri sudah masuk level sabuk hitam, sebuah pengakuan eksistensi juang karena kekokohan integritas bukan semata-mata fisik, namun gemblengan mental spiritual dan pemikiran yang komprehensif.

Namun semua nilai-nilai luhur yang didapatkan sejak memulai kiprah bersama dakwah, sejak 80 an dan 90 an tidak boleh hanya dinikmati sendiri, mesti dikuatkan kembali, diwariskan dan dilanjutkan agar dakwah semakin kokoh dan meraih kemenangan yang nyata.

TUGAS KITA SEMUANYA WAHAI IKHWAH

(1) Mewariskan nilai-nilai Tarbiyah
تَوْرِيثُ قِيَمِ التَّرْبِيَةِ
(Tawrīthu Qiyami at-Tarbiyah)

Taurits Qiyamut Tarbiyah (Pewarisan Kekokohan Tarbiyah)

Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya dia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!” (q.s.Ali Imran : 79)

Dakwah memadukan antara hamasatusy syabab (semangat membara anak muda yang gagah perkasa) dan hikmatus syuyukh (sikap bijak seorang syaikh yang agung dan luhur mulia). KH Hilmi Aminuddin mendidik generasi dakwah sejak awal dengan contoh nyata dan keteladanan agung. Keteladanan beliau menjadi ruh yang tetap menyalakan semangat juang ikhwah fillah sehingga dakwah tetap kokoh.

Karenanya hal ini mesti diwariskan, bagaimana pejuang dakwah bisa kokoh dengan hidup 24 jam bersama dakwah. Contoh nyata Ust Hilmi Aminuddin naik truk sayur didampingi Ust Wildan Hakim yang masih muda belia. Perjalanan jauh bau sayuran kemudian bebersih setelahnya sehingga saat mendidik murid murid beliau dalam keadaan fresh dan prima. Inilah contoh konkret bagaimana kesungguhan Ust Hilmi dalam berjuang meski dengan segala sarana dan keterbatasan, bahkan berjalan kaki dengan rute yang jauh dan waktu tempuh yang lama. Namun semuanya di jalan dakwah.

Penulis jadi teringat makna tajarrud dari Ust Hilmi Aminuddin bahwa tajarrud itu semuanya dibawa untuk dakwah, hingga keluarganya . Bukan semuanya ditinggalkan karena alasan dakwah.

Para ikhwah pejuang dakwah mestilah dan sudah menyiapkan dan mewariskan artefak-artefak dakwah atau amal jariyah berupa lembaga pendidikan, pesantren, sekolah, kader-kader dakwah, pelayanan publik dan sebanyak mungkin kemanfaatan yang bisa dirasakan sebagai wujud komitmen syumuliyatul Islam dan mewujudkan Islam rahmatan lil aalamin.

Tidak ada alasan untuk tidak berkomunikasi dengan komunitas apapun di manapun. Kader dakwah sudah diakui kapasitas dan integritasnya yang kokoh dalam mengelola pembinaan umat lebih khusus dalam memberdayakan ibu-ibu majelis taklim menjadi tiga besar bersama lembaga NU dan Muhammadiyyah. Hal ini diakui langsung oleh masyarakat dan tokoh-tokohnya. Salah satunya Ibu Linda menteri Era SBY, beliau isteri Jenderal Agum Gumelar.

2) Memperkuat soliditas Tarbiyah
تَعْزِيزُ تَمَاسُكِ التَّرْبِيَةِ
(Taʿzīzu Tamāsuki at-Tarbiyah)

Ta’zizu Tamassuki at Tarbiyah (Mengokohkan SOLIDITAS Tarbiyah)

Nilai-nilai dakwah seperti air yang suci lagi mensucikan (thohurun wa muthohharun).

Untuk mengalirkan dakwah memerlukan kanal-kanal dakwah yang sesuai dan tepat, sebagai trisula di jalan dakwah. Masing-masing berperan bukan baperan. Siap menerima kritik, saran dan masukan, 24 jam mendengarkan suara hati dan masyarakat. Sehingga pimpinan dalam memutuskan dan mengambil kebijakan sangat-sangat memperhatikan aspirasi dan hasil musyawarah dari bawah. Masukan yang disyurakan kemudian dijadikan sebagai pengokohan soliditas struktur dan kader dari tingkat bawah hingga tingkat paling atas, berbaris rapi sebagaimana bangunan yang tersusun kokoh. (q.s.Ash Shaff : 3).

Kalau visi misi dakwah dipahami dengan baik dan benar serta memiliki informasi yang akurat, dengan perspektif utuh yang shahih (benar) dan wadhih (gamblang) maka gerakan dakwah akan memiliki soliditas yang kokoh dan dahsyat.

(3) Memperkuat produktivitas Tarbiyah
تَعْزِيزُ إِنْتَاجِيَّةِ التَّرْبِيَةِ
(Taʿzīzu Intājiyyati at-Tarbiyah)

Ta’zizu Intajiyyati at Tarbiyah (Memperkuat Produktivitas Tarbiyah)

Gerakan dakwah adalah gerakan penyelamat (harokatul inqod) yang dimulai dengan Takwinul Ummah dengan membina kader-kader dakwahnya dengan iman yang menghujam, taqwa yang menyala di dalam jiwa, kehidupan islami sampai mati (islamiyatul hayah). Sebagaimana disebutkan dalam Ali Imran 102.

Dakwah tidak hanya dimiliki oleh aktivisnya, namun masyarakat berhak merasakan indahnya dan kegembiraan bersamanya. Karenanya ada wadah Perempuan Adil Sejahtera bagi semua kaum perempuan dari semua umur dan semua lini agar bersama-sama berkontribusi untuk kejayaan negeri. Bagi kalangan muda semua lini ada Gema Keadilan untuk mengekspresikan kecintaan pada negeri ini. Inilah wujud nyata bahwa dakwah ini terus-menerus berkiprah nyata di tengah-tengah masyarakatnya.

Dimulai dengan islahul fardi (pembentukan kepribadian) yang dilanjutkan dengan membentuk keluarga yang mewujudkan nilai-nilai mulia dalam keluarga. Kemudian aktif berkiprah di masyarakat dan memperbaiki tata kelola pemerintahan sampai akhirnya ikut bersama-sama menjadi soko guru peradaban (ustadziyatul ‘alam) mewujudkan rahmatan lil alamin.

Dalam praktek nyata kader dakwah memulai dengan rumah tangga, rumah Allah, rumah dakwah, rumah masyarakat, rumah kebangsaan dan rumah kemanusiaan. Untuk lebih mewujudkan kebermanfaatan, dan membumikan nilai-nilai rahmatan lil aalamiin, pks akan memperluas rentang perjuangan kolaborasi dan sinergi dengan menerapkan aliansi ideologis, strategi & taktis dalam perjuangan. rumah kebangsaan dan rumah kemanusiaan

Semua ini menjadi jembatan nyata dalam mewujudkan nilai-nilai dakwah.

Kam minnaa walaisa fiina betapa banyak orang-orang yang sebagai bagian dari nilai-nilai kita, meskipun mereka tidak ada bersama sama di dalam dakwah kita secara organisasi.

Sungguh dakwah sangat merindukan tokoh-tokoh yang memiliki pandangan utuh menyeluruh, komprehensif, simpatik adil, syamil mutakamil seperti Ustadz Adi Hidayat, UAS, dan Gus Baha yang mengejawantahkan Islam menjadi taman yang indah bagi semua orang. IsIam bukanlah agama yang mengerikan namun menjadi oase yang menyegarkan di tengah kehausan spiritual yang panjang.

WhatsApp Image 2026 07 03 at 09.30.13
Photo by Komdigi PKS Jawa Tengah

Kader dakwah adalah sosok nyata mewujudkan tadayyun sya’bi (mengimplementasikan nilai-nilai agama Islam yang mulia) di tengah masyarakat secara nyata, tegas dalam prinsip, simpatik dalam penampilan.

Karena dakwah mendidik kadernya menjadi jembatan kebaikan bukan malah membuat tembok raksasa yang menutup pintu-pintu kebaikan. Kita menjadi bridging bukan blocking.

Membangun mental pemenang bukan pecundang. Karena inilah sejatinya dakwah. Sehingga “ldalam perspektif gerakan dakwah, tidak ada satu pun negara adi daya yang bisa memberikan sugesti kemenangan kecuali Islam.

Panggilan hayya alal falah, 5 kali sehari, 24 jam di seluruh penjuru dunia adalah panggilan kemenangan dan sugesti spiritual yang paling dahsyat.

Apabila adzan kemenangan sudah bergema masuk ke dalam jiwa maka kun fayakun, pada saatnya, atas izin Allah semuanya akan terwujud nyata.

intisari Taujih Presiden PKS Dr. Al Muzammil Yusuf pada Kembara Latansa Lanjut Jateng

oleh Ustadz Solikhin Abu Izzudin

Kembara PKS Jawa TengahLatansa PKS JatengOpini PKS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Suara Mas Hadi Lainnya

Menyala Emak-Emak Latansa!
Belajar Keteguhan Dakwah dari Senior “Lolita”
Politik ‘Rusak Kabeh’? Sabar, Ngopi Dulu…