
Hari Ini 20 April 2026, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) genap berusia 24 tahun sejak transformasi resmi dari Partai Keadilan pada 20 April 2002.
Milad ke-24 ini menjadi momentum refleksi bagi partai kita yang lahir pasca reformasi 1998 untuk meneguhkan peran sebagai partai kader yang ideologis di tengah dinamika demokrasi Indonesia.
Di Provinsi Jawa Tengah, sebagai basis politik nasionalis dan tradisionalis yang kuat, proses kaderisasi menjadi tulang punggung ketahanan organisasi.
Namun, di era digital dan dominasi generasi muda, kita menghadapi tantangan kejenuhan akibat politik praktis, serta metode pembelajaran tarbiyah yang kurang relate dengan zaman.
Bagaimana proses kaderisasi kita yang berbasis tarbiyah ini dapat diadaptasi merekrut generasi Milenial (1981–1996) dan Gen Z (1997–2012) di tengah tantangan tersebut?
Dalam tulisan ini saya mencoba mengidentifikasi peluang dan tantangan rekrutmen generasi muda, serta merumuskan solusi strategis berbasis data empiris dan teori partai kader.
Solusi yang sedang kita jalankan melalui program Garuda Keadilan, Transformasi Digital PKS (TOTAL-PKS), Gerakan Ekonomi Mandiri (GEMA), Sekolah Kader Patriot Indonesia (SAKTI), dan Akademi Pemimpin Indonesia (API).
Program-program ini dirancang untuk melatih kader-kader mengurangi kejenuhan politik praktis melalui integrasi isu ekonomi dan lingkungan ke dalam halaqah, serta mencari solusi tarbiyah yang relevan dengan Gen Z yang hidup pada era hyper-digital dan value-driven.
Teori partai kader Maurice Duverger (1954) menjelaskan bahwa partai kader seperti kita dibangun atas disiplin ideologis dan pembinaan intensif, bukan sekadar massa. Di Indonesia, sistem ini diadopsi PKS melalui sistem tarbiyah, yang menjadikan halaqah dan usrah sebagai instrumen utama pembentukan pribadi muslim kaffah. Itulah sebabnya PKS mampu bertahan sebagai partai terorganisir pasca-Reformasi 1998 sampai sekarang.
Proses kaderisasi kita melalui rekrutmen fardi (dakwah perorangan di masjid dan ruang publik) dan jama’i (melalui Lembaga Dakwah dan Organisasi Sayap Partai). Penjenjangan marhalah dengan evaluasi taqwim berdasarkan sepuluh muwashafat (akidah, ibadah, akhlak, fisik, finansial, hingga manajemen waktu), menjadi “mesin kader” yang solid. Namun, terlibatnya kita ke politik praktis menyebabkan kejenuhan. Pertemuan halaqah semakin didominasi strategi politik ketimbang siraman rohani menjadi perhatian bagi kita bersama.
Berdasarkan sensus penduduk 2020 Badan Pusat Statistik (BPS) yang masih menjadi rujukan resmi dan paling sering dikutip hingga 2026 (termasuk proyeksi penduduk 2020-2050), Generasi Z (lahir 1997-2012) sekitar 74,93 juta jiwa (27,94% dari total penduduk). Generasi Milenial (lahir 1981–1996) sekitar 69,38 juta jiwa (25,87% dari total penduduk). Kedua generasi ini mendominasi struktur penduduk Indonesia, dengan total sekitar 144,31 juta jiwa (lebih dari setengah populasi).
Mereka cenderung alergi terhadap politik konvensional yang terasa birokratis dan kurang solutif.
Banyak halaqah berjalan formalitas, sehingga transfer nilai tarbiyah tidak maksimal. Rekrutmen Gen Z melalui rekrutmen jama’i terhambat, padahal kelompok ini sangat responsif terhadap komunitas berbasis hobi dan isu kontemporer. Kejenuhan politik praktis semakin memperburuk situasi, pertemuan tarbiyah sering dibebani strategi politik, sehingga memudar motivasi spiritual.
Pembelajaran tarbiyah yang kaya akan spiritual dan solutif terhadap isu-isu kontemporer menjadi kunci peluang.
Adanya TOTAL-PKS, GEMA dan API yang mengintegrasikan solusi ekonomi dan kepemimpinan ke dalam tarbiyah menjadi peluang merekrut Milenial dan Gen Z terbuka lebar. Generasi ini mempunyai value-driven dan lebih percaya konten peer-to-peer daripada pidato elit. Jika kita eksekusi konsisten, kita berpotensi mencapai target pertumbuhan kader.
Milad ke-24 PKS adalah panggilan untuk kita kader PKS khususnya di Jawa Tengah menjadi pembina yang relevan dengan zaman. Dengan tarbiyah tanpa meninggalkan ruh.
Kita bukan hanya bertahan, melainkan menjadi kekuatan moral yang mampu mengajak generasi muda membangun Indonesia yang adil dan sejahtera.
Keberhasilan rekrutmen Milenial dan Gen Z akan menentukan masa depan partai di tahun 2029 dan seterusnya.
Bukti bahwa kaderisasi yang adaptif adalah kunci keabadian ideologi di tengah perubahan zaman.
Selamat Milad PKS ke-24.
Sekretaris DPW PKS Jawa Tengah
Julisa Ramadhan