
Brebes – Penguatan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan daya saing subsektor peternakan di daerah. Di tengah tingginya kebutuhan protein hewani serta kompetisi pasar yang semakin terbuka, para pelaku peternakan dituntut tidak hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun, tetapi juga menguasai pengetahuan teknis dan inovasi pemeliharaan ternak. Upaya peningkatan kapasitas inilah yang terus didorong agar peternak di daerah mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan sekaligus berkontribusi pada perekonomian lokal.
Dalam konteks tersebut, Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Sururul Fuad, memfasilitasi pelatihan intensif bagi para peternak di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, pada Minggu (19/10/2025). Pelatihan menghadirkan narasumber dari dua institusi strategis, yakni Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Brebes, Ismu Subroto, serta Yudi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan SDM agar peternak tidak tertinggal dalam hal teknologi, manajemen, dan standar kesehatan ternak.
Dalam sambutannya, Sururul Fuad menekankan pentingnya kesungguhan dalam menjalankan usaha peternakan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak cukup hanya bertumpu pada ketersediaan modal, namun wajib ditopang ilmu pengetahuan dan inovasi.
“Dengan bekal ilmu yang lebih banyak, para peternak diharapkan semakin cerdas dalam mengelola ternaknya. Ternaknya semakin berkembang dan membantu perekonomian masyarakat,” ujar Fuad.
Sebagai anggota Komisi E yang membidangi kesejahteraan masyarakat, termasuk bidang pendidikan dan kesehatan, Fuad menegaskan bahwa akses terhadap ilmu praktis dan riset terapan menjadi kebutuhan mendesak. Pelatihan seperti ini, ujarnya, bukan hanya forum berbagi teori, tetapi sarana bagi peternak untuk meng-upgrade kemampuan agar mampu menghadapi persaingan dan dinamika pasar.
Secara regional, subsektor peternakan memiliki kontribusi penting dalam mendukung ketahanan pangan Jawa Tengah, termasuk di Brebes. Namun, persoalan produktivitas ternak, efisiensi pakan, hingga pemahaman mengenai biosekuriti masih menjadi catatan yang perlu dibenahi. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, dan masyarakat peternak dinilai penting agar transfer pengetahuan berjalan efektif dan tepat sasaran.
Pelatihan di Paguyangan disusun dalam dua sesi, yakni pemaparan materi di ruang pertemuan dan praktik langsung di kandang ternak. Usai sesi pemaparan, Ismu Subroto dan Yudi mengajak peserta ke lokasi peternakan yang juga menjadi area penelitian. Di sana, peserta diperkenalkan pada teknik pemeliharaan yang baik, termasuk demonstrasi pembuatan pakan dan minuman yang ideal, khususnya untuk domba dan kambing. Melalui pendekatan demikian, peserta tidak hanya menerima teori tetapi juga melihat aplikasi lapangan secara langsung.
Para peternak tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif karena para peserta dapat menyampaikan persoalan faktual yang mereka temui di kandang, mulai dari manajemen pakan hingga pola perawatan ternak sakit. Kehadiran perwakilan BRIN juga memberi nilai tambah, memastikan pengetahuan yang disampaikan berbasis riset terbaru yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas ternak di tingkat tapak.
DPRD berharap pelatihan serupa dapat dilakukan secara rutin dan berjenjang, mengingat kebutuhan peningkatan kapasitas peternak tidak dapat diselesaikan dalam satu pertemuan. Pengembangan teknologi pakan, penerapan standar kesehatan, hingga penguatan akses pasar menjadi bagian integral yang perlu terus didorong ke depan.
Fuad menegaskan, pihaknya akan terus mendorong adanya program pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan peternak di lapangan. Menurutnya, jika ekosistem pengetahuan, riset, dan pendampingan berjalan berkesinambungan, peternak lokal tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar daerah, namun juga berpotensi memperluas jangkauan pemasaran hingga tingkat regional.
Ia berharap, komitmen berbagai pihak dalam memperkuat SDM peternak dapat melahirkan generasi peternak yang lebih cerdas, mandiri, dan berdaya saing. Dengan demikian, subsektor peternakan dapat menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus pilar bagi ketahanan pangan daerah.