
Semarang — Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho, menghadiri Pameran Nasional Kain Tradisional bertajuk “Rupa Warna Wastra Nusantara” yang digelar di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita, Semarang pada Jumat (9/5). Acara ini tidak hanya menampilkan kekayaan wastra Nusantara, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya lintas generasi.
Pameran yang dibuka mulai tanggal 8-12 Mei ini melibatkan museum provinsi dari seluruh Indonesia, termasuk Museum Batik Pekalongan. Tak kurang dari 130 koleksi kain tradisional nusantara dipamerkan. Menariknya, selain melibatkan pihak museum, Pameran ini juga memberikan kesempatan bagi pemuda siswa-siswi SMK tata busana se-Jawa Tengah untuk turut serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan Pameran. Terbukti sejak Kamis (8/5), pengunjung telah disuguhi peragaan busana, tarian, dan berbagai produk kreatif siswa SMK.
Saat dimintai keterangan, Setya Arinugroho menyebut pelestarian dengan kolaborasi dan inovasi mampu ‘menghidupkan kembali’ dan memajukan wastra nusantara di era disrupsi.
“Indonesia, khsusnya Jateng punya kekayaan wastra yang luarbiasa beragam. Masing-masing selain jadi identitas daerah juga punya nilai filosofis yang mendalam. Tentunya harus terus kita jaga bersama. Pameran dengan kolaborasi dan inovasi yang baik seperti ini saya kira efektif untuk ‘menghidupkan kembali’ dan memajukan wastra nusantara di era disrupsi saat ini” jelas Ari.
Penyelenggaraan Pameran ini juga menjadi momentum peluncuran aplikasi digital Ageman Nusantara, yang memungkinkan pengunjung mencoba pakaian adat secara virtual dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Museum Ranggawarsita turut menampilkan tujuh benda warisan budaya yang telah diakui UNESCO di ruang khusus Heritage Central of Java.
Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa kolaborasi dan inovasi jadi bahan bakar utama pelestarian warisan budaya.
“Pameran ini membuktikan bahwa pelestarian budaya memerlukan dua bahan bakar utama yakni kolaborasi dan inovasi . Kolaborasi antar lembaga, pelaku seni dan kerajinan, serta pemuda menjadi kunci keberhasilan. Selain itu inovasi melalui teknologi digital seperti Ageman Nusantara adalah lompatan besar dalam memperkenalkan wastra kita kepada generasi muda dan dunia,” ujarnya.
Dirinya juga menegaskan dukungannya terhadap inisiatif museum dalam mengedukasi publik mengenai kekayaan budaya Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah.
“Kami di DPRD Jateng berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian warisan budaya lokal. Karena itu, dukungan kebijakan dan sumber daya terhadap inisiatif dan upaya-upaya pelestarian akan terus menjadi prioritas kami” lanjutnya.
Ari berharap pameran ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan potensi budaya lokal yang inklusif dan modern.
“Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti di sini. Semoga menjadi pemantik semangat bagi semua pemangku kepentingan untuk terus menjaga, merawat, dan mempromosikan warisan budaya Indonesia sebagai aset bangsa yang tak ternilai,” tutupnya.
Sementara itu pihak Museum Ranggawarsita menargetkan 6.000 pengunjung hadir selama pameran berlangsung, sebagai wujud antusiasme masyarakat terhadap warisan budaya nusantara.