
Ungaran – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Amir Masduki, menghadiri forum perangkat daerah yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah di Ungaran pada Kamis (17/04/2025). Forum yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di sektor pangan ini fokus pada pembahasan strategis mengenai hilirisasi pangan sebagai upaya memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.
Diskusi mendalam dalam forum tersebut menyoroti potensi besar Jawa Tengah dalam menghasilkan berbagai komoditas pangan unggulan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa pada tahun 2024, produksi padi mencapai angka 11,8 juta ton gabah kering giling (GKG), menjadikannya salah satu produsen padi terbesar di Indonesia. Selain padi, Jawa Tengah juga memiliki kontribusi signifikan dalam produksi jagung, kedelai, tebu, serta berbagai produk hortikultura dan peternakan.
Namun, forum tersebut juga menggarisbawahi tantangan yang dihadapi, di antaranya adalah fluktuasi harga komoditas, keterbatasan infrastruktur pasca-panen, serta kurang optimalnya nilai tambah produk pangan. Hilirisasi pangan dipandang sebagai solusi strategis untuk mengatasi tantangan ini dengan cara mengolah produk mentah menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi, memperpanjang masa simpan, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor industri pengolahan pangan.
Jateng sebenarnya punya banyak potensi hilirisasi yang menjanjikan, diantaranya:
- Pengolahan padi menjadi beras premium, produk olahan beras instan, bihun, dan tepung beras termodifikasi. Hal ini dapat meningkatkan nilai jual padi petani dan memenuhi permintaan pasar yang beragam.
- Pengembangan industri pengolahan jagung menjadi pakan ternak berkualitas tinggi, tepung jagung untuk berbagai industri makanan, serta produk turunan jagung lainnya. Ini akan mendukung sektor peternakan dan diversifikasi produk pangan.
- Pengolahan produk hortikultura seperti buah-buahan dan sayuran menjadi produk olahan seperti keripik, selai, sari buah, dan produk beku. Hal ini dapat mengurangi kerugian pasca-panen dan meningkatkan daya saing produk lokal.
- Pengembangan industri pengolahan hasil peternakan menjadi produk daging olahan, susu olahan, dan produk sampingan lainnya. Ini akan memberikan nilai tambah bagi peternak dan memenuhi kebutuhan konsumen.
Dalam forum tersebut, Amir Masduki menyampaikan pandangannya yang kuat mengenai pentingnya hilirisasi pangan bagi kemajuan sektor pertanian dan perekonomian Jawa Tengah.
“Saya sangat mendukung penuh upaya Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah dalam mendorong hilirisasi pangan. Jawa Tengah memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa di sektor pertanian. Namun, potensi ini perlu dioptimalkan melalui proses pengolahan yang inovatif dan berorientasi pasar. Hilirisasi bukan hanya tentang meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga tentang menciptakan ketahanan pangan yang lebih kuat, membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, dan pada akhirnya berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” tegas Amir Masduki.
Lebih lanjut, Amir Masduki menekankan perlunya sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, akademisi, dan petani dalam mewujudkan hilirisasi pangan yang berkelanjutan. “Dukungan kebijakan yang tepat, penyediaan infrastruktur yang memadai, akses terhadap teknologi dan modal, serta pendampingan bagi petani dan pelaku UMKM pengolahan pangan adalah kunci keberhasilan hilirisasi ini. DPRD Provinsi Jawa Tengah siap untuk mendukung inisiatif-inisiatif yang mendorong kemajuan sektor pangan melalui kebijakan dan pengawasan yang efektif,” pungkasnya.
Forum perangkat daerah ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi konkret yang akan menjadi landasan bagi penyusunan program dan kebijakan strategis Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah dalam memajukan hilirisasi pangan dan memperkokoh posisi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.