

Yogyakarta – Pariwisata tak melulu soal spot alam dan taman bermain. Pasalnya masyarakat masih menaruh minat pada wisata berbasis sejarah seperti kota tua hingga museum. Pariwisata sejarah menjadi salah satu pilihan wisata masyarakat yang edukatif, relatif aman, dan ramah anak. Hanya saja museum perlu dikemas sedemikian rupa agar terus menarik dan cocok bagi segala generasi.
Anggota Komisi B DPRD Jateng , Martono menyebut bahwa museum potensial menjadi magnet wisatawan jika dikelola dengan baik dan inovatif. Hal tersebut disampaikannya selepas kunjungan kerja Komisi B DPRD Jateng ke Museum Pesanggrahan Ambarrukmo di Yogyakarta pada Senin (4/11/2024).
“Museum itu memiliki potensi yang baik untuk jadi magnet wisatawan. Tinggal bagaimana pengelolaannya saja. Saya yakin jika dikelola dengan baik dan inovatif tentunya semakin menarik minat masyarakat” jelas Martono.
Komisi B dalam hal ini berkomitmen untuk terus mengeksplor potensi wisata sejarah dan budaya di Jawa Tengah. Untuk itu dalam kunjungan kerja tersebut Martono dan rekan Komisi B menggali data dan informasi penguatan data Raperda Penyelenggaraan Kepariwisataan, khusunya untuk pariwisata sejarah dan cagar budaya.
“Harapannya dari kunjungan ini Kami mendapatkan penguatan data dan informasi untuk Raperda Penyelenggaraan Kepariwisataan yang sedang kami godok” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu rombongan Dewan berkesempatan berkeliling museum yang dahulu diketahui menjadi bekas rumah peristirahan Raja Ngayogyakarta Sri Sultan HB VII. Seluruh spot dalam museum tersebut ditata secara apik, mulai dari pendapa yang dulu dipakai Presiden Joko Widodo menggelar pernikahan putranya, bale ageng, sampai bale kambang.
Joesman selaku wakil dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X menjelaskan tentang Pemerintahan Daerah ada wewenang pemerintah antara lain kebudayaan, kesenian tradisional, sejarah, cagar budaya, permuseuman, dan warisan budaya.
“Bale kambang ini adalah tempat untuk beliau meditasi sama untuk ibadah. Karena di atas itu ada simbol atau hasta brata, delapan penjuru arah mata angin. Sama di atasnya ada simbol kayak di masjid-masjid Demak, Kudus, Kotagede, sama di Masjid Keraton itu ada lambangnya. Itu juga jadi alasan kenapa kalau naik harus lepas alas kaki. Arsitektur bale kambang ini merupakan perpaduan antara gaya Eropa dan Jawa. Pelestarian dan upaya untuk mempertahankan kebudayaan dan nilainya adalah dengan cara melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan nya’’ Jelasnya.