

Kabupaten Semarang – Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Ida Nurul Farida, M.Pd. menerangkan bahwa peningkatan kompetensi pendidik merupakan kunci untuk mewujudkan akselerasi pembangunan nasional. Pernyataan tersebut Ida sampaikan kala menjadi narasumber dalam Seminar Kebangsaan yang berjudul “Dialog Kebangsaan dan Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan” di aula Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mitra Harapan pada Sabtu. (1/6/2024)
Acara ini diadakan untuk memperingati hari lahir Pancasila sekaligus menguatkan karakter nasionalisme yang dimiliki oleh civitas PKBM Mitra Harapan.
Melihat kondisi sosial dan ekonomi di era revolusi 5.0 dewasa ini, Ida menyorot urgensi pendidikan sebagai pilar sekaligus kunci utama pembangunan nasional. Pasalnya, disrupsi melahirkan beragam kemudahan dari sederet teknologi dan kecerdasan baru. Tak ayal, perkembangan tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.
Ida menegaskan bahwa SDM yang unggul tanpa sikap kompetitif dan wawasan kebangsaan tak akan mampu menghadapi perubahan apapun. Sebab sikap adaptif hanya dapat dicapai dengan jiwa kompetitif dan nasionalisme.
“kondisi sosial-ekonomi 5.0 sekarang ini hanya menguntungkan SDM-SDM yang unggul, kompetitif dan berwawasan kebangsaan. Sebab (keadaan) sekarang ini menuntut sikap adaptif. Bagaimana mencapainya? tak ada jalan lain selain lewat pendidikan” jelas Ida.
Lebih lanjut Ida menjelaskan bahwa wawasan kebangsaan juga akan membantu generasi muda mengembangkan sikap nasionalisme yang kuat. Nasionalisme adalah suatu sikap yang menjaga dan menghormati identitas bangsa. Nasionalisme juga akan membantu generasi muda untuk membangun sebuah masyarakat yang lebih kuat dan berdaya saing.
Sudarsih, ketua PKBM Mitra Harapan menjelaskan Pendidik berperan dalam menumbuhkan semangat cinta tanah air dan nasionalisme serta menghadapi tantangan era digitalisasi yang mengikis makna kemerdekaan sesungguhnya.
Peran pendidik sangat penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki rasa cinta tanah air yang kuat. Salah satu caranya adalah dengan membina siswa untuk berperan aktif dalam menguatkan rasa nasionalisme melalui berbagai kegiatan sekolah, baik di dalam sekolah maupun dalam berpartisipasi dalam kegiatan di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten.
“Ada tantangan yang dihadapi pendidik dalam mengisi makna kemerdekaan di era digital ini. Generasi muda sering kali mengalami degradasi pemahaman akan makna sebenarnya dari kemerdekaan, dan lebih fokus pada pembebasan dari norma dan aturan yang membatasi. Era digitalisasi juga dapat mengaburkan makna kemerdekaan sejati, sehingga perlu upaya lebih besar untuk menghidupkan semangat tersebut, ujarnya.