

Semarang – Sejumlah 3,2 juta hektare lahan di Jawa Tengah rawan dilanda kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebut 3.277.108 hektare (ha) yang terancam diterpa kekeringan tersebut tersebar di 35 kabupaten/kota dengan kategori bervariasi antara sedang sampai tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah, Hadi Santoso, S.T., M.T. meminta Pemerintah Provinsi dan Dinas terkait untuk sigap mekakukan upaya mitigasi dalam rangka meminimalisir dampak dan kerugian akibat kekeringan yang mungkin terjadi.
“Bukan luasan yang kecil, Ini perlu benar-benar menjadi perhatian Pemerintah dan Dinas terkait untuk tanggap melakukan upaya mitigasi yang tepat, apalagi kemarau sudah dimulai bulan ini (Mei 2024)” ujar Hadi.
Sebagaimana biberitakan sebelumnya, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng, Sukasno, memang memprediksi bahwa awal musim kemarau 2024 akan terjadi pada bulan Mei. Sementara puncaknya bakal terjadi pada Agustus 2024.
Lebih lanjut, Hadi menghimbau Pemerintah Daerah setempat, terutama pada daerah yang cenderung mengalami kekeringan dari tahun ke tahun agar memaksimalkan penyimpanan air pada akhir musim hujan saat ini untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi dan penyimpanan buatan lainnya.
“Kami terus menghimbau Pemda setempat dalam mengoptimallkan akhir musim penghujan ini untuk menyimpan air di waduk dan penyimpanan buatan lain” lanjut Hadi.
Anggota legislatif asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut juga berharap bahwa Jateng sebagai salah satu penyangga pangan nasional dapat menjaga produksi pangan tetap stabil.