

Tegal – Kementerian Kesehatan melaporkan data mengejutkan terkait kasus Truberkulosis (TBC). Tercatat sekitar 1.060.000 kasus TBC terjadi di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, ironisnya Provinsi Jawa Tengah menjadi daerah dengan jumlah kasus yang tergolong tinggi, yakni 96.917 kasus. Sementara itu, Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dalam periode satu tahun saja terdapat sekitar 294 persen kasus (per-tahun 2023). Dalam hal ini, Tegal menduduki presentase tertinggi temuan kasus terbanyak baik di tingkat Jateng maupun Nasional.
Menanggapi hal tersebut Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jateng, Jasiman menekankan bahwa kasus TBC di Jateng perlu menjadi perhatian serius.
“Saya dapat info dari Dinkes Jateng bahwa presentasenya benar-benar melebihi ekspektasi dari yang semula 90 persen, realitanya sampai 115 persen Kasus ini (TBC) tentunya perlu mendapatkan perhatian dan perlakuan yang serius” ungkap Jasiman.
Pasalnya dalam satu tahun, diperkirakan terdapat sekitar 134.000 kematian akibat TBC. Artinya, setiap jam ada 15 kematian akibat TBC. Terlebih anak-anak penderita TBC rawan terkena tengkes atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat berat badan yang terus-menerus turun. Hal ini tentunhya akan sangat memberatkan anak-anak kedepannya.
Jasiman kemudian menjelaskan bahwa hal paling penting yang perlu menjadi perhatian dalam penanganan TBC adalah dengan menemukan penderita dengan gejala TBC. Dirinya menuturkan bahwa penemuan kasus dapat mempercepat pengobatan pasien serta mencegah hingga memutus kemungkinan penularan.
“Saya kira penting untuk mendeteksi orang dengan gejala TBC agar lebih cepat diobati dan memutus potensi penularannya” papar Jasiman.
Lebih lanjut, Jasiman mengakui bahwa penanganan TBC di Jawa Tengah tak dapat dipasrahkan oleh satu pihak saja seperti Dinas Kesehatan. Penanggulangannya perlu dilakukan secara masif, dan terintegrasi dengan melibatkan pula akademisi, pihak Non Government Organisation (NGO) atau swasta, media, hingga masyarakat itu sendiri.
“Penanganannya jelas tak bisa dipasrahkan oleh satu pihak. Semuanya perlu bahhu-membahu dengan melibatkan para akademisi, NGO dan swasta, media, hingga masyarakat itu sendiri” ujarnya.
Sementara itu, penyakit TBC sendiri disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru dan mengakibatkan penderitanya mengalami sesak napas disertai batuk kronis. Penularannya sendiri sama dnegan Covid-19 yakni melalui droplet.
Kendati menjadi penyebab kematian kedua terbanyak di dunia setelah Covid-19, namun TBC masih dapat disembuhkan dengan pengobatan rutin. Jasiman menyampaikan bahwa TBC dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat sebagaimana masyarakat menghadapi Covid-19.