

PKS Jateng Online – Tahun 2023 dapat dikatakan sebagai tahun kesengsaraan untuk masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Harga pangan selalu mengalami tren kenaikan harga. Di saat yang sama bukannya menjadi lebih sejahtera, petani dan nelayan sebagai produsen utama pangan justru sengsara lantaran gagal panen hingga gagal saing dengan produk impor. Semua pihak merugi, petani merugi, masyarakat-pun merugi.
Fakta mengejutkan datang dari ketersediaaan bawang putih di tanah air. Siapa sangka jika ketersediaan bawang putih justru didominasi hasil impor. Setidaknya 95% bawang putih di tanah air didatangkan dari China, India, Taiwan dan Amerika Serikat. Sementara 5% sisanya murni dari hasil pertanian dalam negeri. Ironis mengingat bawang putih adalah salah satu sumber pangan pokok masyarakat Indonesia.
Tak bisa dipungkiri jika el-nino turut andil mempengaruhi rendahnya produksi bawang putih tanah air. Namun faktor utamanya justru berasal dari lesunya minat masyarakat untuk memproduksi bawang putih lantaran tak sanggup bersaing harga dengan produk impor.
Muncul pertanyaan besar, mengapa harga bawang produksi dalam negeri justru lebih mahal dibandingkan dengan bawang putih impor yang notabene perlu ongkos ditribusi yang lebih mahal. Selain karena adanya indikasi politik dumping (kebijakan barang ekspor dijual lebih murah untuk menguasai pasar suatu negara), dan selera masyarakat, campur tangan tengkulak juga turut mempengaruhi tingginya harga bawang dalam negeri.
Petani masih berhubungan dengan tengkulak saat harga panennya turun. Mereka terpaksa menjual murah hasil panen kepada tengkulak lantaran tak memiliki gudang dan khawatir tak mampu menjualnya saat harga pasar kembali normal.
Atas dasar kebutuhan petani tersebut, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memberikan solusi dengan menyediakan gudang murah bagi petani di tiap desa/kelurahan agar harga komoditi tetap murah dan stabil.
Solusi tersebut dapat diselenggarakan dengan menyediakan gudang penyimpanan hasil panen serta fasilitas pengeringan bawang putih dan bawang merah bagi petani. Keduanya disediakan dengan biaya sewa yang rendah agar tak membebani petani. Selain itu, gudang juga diproyeksikan dapat membeli hasil panen sepanjang tahun dari petani dengan harga yang wajar sehingga petani tak perlu menjualnya kepada tengkulak dengan harga murah.
Dengan solusi tersebut, harapannya petani tak lagi terpaksa menjual hasil pertaniannya kepada tengkulak dengan harga murah. Sehingga harga pangan di pasar akan cenderung lebih stabil dan dapat bersaing dengan produk impor.