

Semarang – Provinsi Jawa Tengah rupanya menutup tahun dengan kelabu. Pasalnya produksi pangan sepanjang tahun 2023 mengalami penuruan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Produksi padi tercatat mengalami penurunan dari 9,36 juta ton menjadi 9,06 juta ton. Dengan kata lain, produksi pangan Jawa Tengah mengalami presentase penurunan sebanyak 3,15 persen dalam satu tahun.
Sementara itu, luas panen padi mengalami penurunan sebanyak 2,86 persen dibanding tahun 2022. Presentase tersebut mewakili luasan sebesar 50,000 hektare.
Pakar agronomi Institut Pertanian Bogor, Rudi Purwanto, mengatakan setiap orang Indonesia membutuhkan rata-rata 130 kilogram beras per tahun. Angka ini membuat rakyat Indonesia merupakan konsumen beras terbesar di dunia. Jika jumlah penduduk Jawa Tengah sebanyak 34.550.000 pada tahun 2023 makan kebutuhan beras di Tahun yang sama sekitar 4,49 juta ton.
Walaupun mengalami penurunan produksi, Jawa Tengah terbilang masih mampu memenuhi kebutuhan beras dalam daerahnya secara mandiri. Oleh karena itu, hal yang sebenarnya perlu diwaspadai oleh Jawa Tengah adalah tren penurunan terus menerus tiap tahun.
Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setia Budi Wibowo menjelaskan bahwa penurunan produksi pangan dilatarbelakangi oleh beberapa faktor seperti berkurangnya luasan lahan-lahan produktif, penuruna harga komoditas akibat masuknya pangan impor yang jauh lebih murah, serta kondisi iklim yang ekstrim.
“Sebenarnya faktornya banyak, sehingga pembenahannya tak bisa hanya terfokus pada sisi tertentu. Ada faktor berkurangnya luasan lahan-lahan produktif, banyaknya pangan impor yang masuk, juga karena faktor iklim yang ekstrim” jelas Wibowo.
Berkurangnya lahan-lahan produktif memang tak lepas dari meningkatnya laju konversi lahan seiring dengan laju pembangunan infrastruktur. Selain itu, petani juga cenderung kurang bergairah untuk mengoptimalkan produksinya lantaran penuruan harga komoditas akibat masuknya bahan pangan impor yang memang lebih murah. Pada sisi lain, keberhasilan suatu usaha tani sangat ditentukan oleh faktor lingkungan tumbuh tanaman yang diusahakan. Aspek iklim dan cuaca sebagai salah satu anasir lingkungan sangat menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Perubahan iklim global (Global climate change) merupakan salah satu isu penting dewasa ini. Selama Tahun 2023, tantangan tersebut belum dapat dijawab oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam bentuk program/kegiatan dan kebijakan pembangunan lainnya.
Lebih lanjut, Wibowo menyatakan bahwa peningkatan produksi pangan perlu menjadi concern berbagai pihak.