
CILACAP, PKS Jateng Online – Musibah tragis tanah longsor yang menerjang permukiman di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, pada Kamis malam (13/11/2025) menyisakan duka mendalam sekaligus kisah haru yang menggugah.
Hingga Sabtu (15/11/2025) pukul 19.00 WIB, bencana dahsyat ini telah merenggut nyawa 11 korban jiwa. Di tengah lumpur dan puing-puing, para relawan kemanusiaan yang berjuang menemukan korban tak bernyawa, justru menemukan suara pilu yang masih “hidup”—suara hati korban yang tertuang dalam sebuah catatan terakhir.
Merespons cepat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah segera memobilisasi bantuan dan mengerahkan tim relawan dari tujuh kabupaten/kota di sekitar Cilacap untuk bergabung dalam operasi tanggap darurat.

Kisah ini terungkap saat tim Komunikasi Digital (Komdigi) DPD PKS Cilacap bertemu langsung dengan para relawan di lokasi bencana.
Di area A1, tempat tim berjuang menyingkirkan material longsor, seorang relawan menemukan sebuah buku kecil dengan sampul yang kusam dan lembap akibat hujan.
Buku itu tampak seperti buku harian atau catatan pendek, tetapi isinya jauh lebih berat dari sekadar tulisan biasa.
Di antara halaman-halaman yang lusuh itu, tersimpan kalimat-kalimat sederhana namun penuh daya hidup, seolah korban masih berusaha berinteraksi di saat-saat terakhirnya.
“Setiap goresan hurufnya seperti memanggil, seperti mengatakan bahwa ia masih berusaha bertahan, masih berharap ditemukan, masih menunggu,”demikian cerita tim Komdigi PKS, menggambarkan kondisi catatan tersebut.
Ada satu kalimat yang paling membuat relawan tercekat dan waktu seakan berhenti sejenak. Kalimat tersebut berbunyi:
“Aku terus berdoa agar ada yang mau mendengarkan teriakanku. Lalu aku menemukan TIM SAR yang sedang menyelamatkan para korban.”
Kalimat tersebut memancarkan kekuatan harapan di tengah keputusasaan. Meskipun ditulis tanpa jeritan suara, catatan itu menjadi saksi bisu betapa kuatnya seseorang bertahan, berharap ditemukan, bahkan saat tubuhnya tertimbun bencana.
Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah fakta lokasi penemuan buku tersebut. Buku itu ditemukan tepat di area di mana satu korban masih belum ditemukan hingga saat berita ini diturunkan. Penemuan ini terasa seperti isyarat atau pesan yang ditinggalkan korban untuk dunia.
Relawan yang memegang buku itu mengaku hanya bisa terdiam dan bergetar. “Masya Allah…,” adalah satu-satunya kata yang mampu diucapkan.
Buku kecil itu kini bukan hanya sekadar barang temuan. Ia menjadi suara terakhir yang menyentuh hati para relawan, sebuah pengingat humanis bahwa di balik setiap korban yang hilang, ada cerita, ada cinta, dan ada doa yang tak pernah selesai dituliskan.
Penemuan ini semakin memicu semangat para relawan dari PKS dan tim gabungan lainnya untuk melanjutkan upaya pencarian dan penyelamatan korban.
(Sulistiana/Panji Anom Kaliwinong)