SEMARANG, PKS JATENG Online – Tiga bulan terakhir, langit di sebagian Kalimantan dan Sumatra berubah rupa. Warna kuning kemerahan menggantikan biru di Kalimantan, sementara kabut abu-abu menyelimuti pagi warga Sumatra. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bermula dari lahan gambut di Kalimantan kini meluas, dan Sumatra bagian selatan mengalami hal serupa. Kebakaran di sejumlah titik di Jawa Timur memang lebih kecil skalanya, tetapi mengingatkan bahwa ancaman ini tidak berhenti di dua pulau itu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas kebakaran kumulatif di enam provinsi prioritas mencapai lebih dari 129 ribu hektare hingga 12 Oktober 2026. Asapnya melintasi batas negara hingga dirasakan warga negeri tetangga, dan isu ini menjadi perbincangan di Asia Tenggara.
Dampaknya nyata: mata perih, napas sesak, penerbangan terganggu, dan habitat satwa liar ikut terbakar. Kita pun menanggung beban moral kepada negara tetangga yang terdampak.
Sering kali, bencana ini dengan mudah dikambinghitamkan pada faktor alam semata—musim kemarau panjang dan karakter lahan gambut yang mudah terbakar. Namun, sangat naif rasanya jika manusia enggan berkaca pada tindakan serta kebijakan pengelolaan lingkungan selama ini. Alam memang merespons apa yang diproduksi oleh interaksi manusia di atasnya.
Di titik terdampak, warga sipil harus kehilangan hak atas udara bersih. Langit biru berganti jelaga dan asap pekat, menjadi pemandangan sehari-hari warga di Kalimantan dan Sumatra. Kesehatan paru-paru masyarakat berada dalam ancaman serius, sementara ekosistem serta habitat satwa langka kian tergerus.
Di tengah duka ini, kepedulian terbesar justru kerap hadir dari para relawan. Berbekal niat tulus dan cinta tanah air, mereka berada di garis depan memadamkan api tanpa pamrih. Sayangnya, ketulusan para pekerja lapangan ini sering kali berbanding terbalik dengan gestur sebagian pejabat publik. Penanganan kerap terasa formalitas: turun ke lapangan sebatas pemenuhan seremonial dokumentasi untuk headline media, sebelum kembali ke ruang rapat yang lambat mengeksekusi langkah konkret.
Kebakaran hutan dan lahan bukanlah isu baru yang hadir tiba-tiba. Pertanyaannya: apakah kita belum belajar dari evaluasi tahun-tahun sebelumnya? Jangan sampai momentum bencana tahunan ini terus berulang dan sekadar dijadikan panggung penataan citra tanpa ada perubahan sistemik pencegahan.
Kita perlu mengembalikan nurani dan empati dalam tata kelola lingkungan. Menjaga alam dan keselamatan rakyat harus berada di atas kalkulasi kepentingan jangka pendek.
Dalam merespons musibah ini, aksi nyata tidak boleh berhenti pada narasi. Selain doa dan penggalangan donasi, langkah konkrit di lapangan menjadi kebutuhan mendesak. Sebagai bagian dari kepedulian terhadap bencana ini, jajaran PKS Jawa Tengah beberapa waktu lalu turut menggelar Salat Istisqa bersama di Kantor DPTW Kalimantan Tengah untuk memohon diturunkannya hujan. Langkah tersebut disertai aksi sosial dengan membagikan masker secara langsung kepada masyarakat yang terdampak kabut asap.


Ikhtiar spiritual dan aksi sosial ini adalah bentuk empati serta kebersamaan kita dengan saudara-saudara terdampak. Bencana ini adalah cermin bagi kita semua. Manusia yang merusak, manusia pula yang harus bertanggung jawab memulihkannya. Seluruh elemen—baik pemerintah, relawan, maupun masyarakat luas—harus bersatu padu dan berani mengambil langkah berani untuk menghentikan siklus bencana ini secara permanen.
Baca Juga Artikel Lainnya disini : PKS Jawa Tengah Cetak Pemimpin Muda.
Mari terus membersamai para korban dan petugas di lapangan, mengawal kebijakan penanganan bencana agar lebih cepat dan tepat, serta memohon yang terbaik bagi keselamatan bangsa Indonesia.