Spirit Muktamar Muhammadiyah: Hikmah, Edukasi, dan Dialogis Keumatan

img

Hadi Santoso, Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah Fraksi PKS / FOTO : Ikie

Oleh: Hadi Santoso

Setelah sempat tertunda dua tahun akibat pandemi Covid-19, Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah akan dihelat pada tanggal 18-20 November 2022 di Solo. Perhelatan Muktamar Muhammadiyah ke-48 menjadi yang ke tiga kalinya dilaksanakan di Kota Liwet. Sebelumnya, Muktamar Muhammadiyah pernah dilaksanakan di Solo untuk pertama kalinya pada tahun 1929 yakni muktamar ke-18. Kemudian kali kedua Muktamar di Solo adalah periode Muktamar ke-41 pada tahun 1985.

Berbicara mengenai Muktamar, kegiatan ini bisa dikatakan sebagai permusyawaratan tertinggi di Muhammadiyah. Pada momen ini regenerasi estafeta dakwah Muhammadiyah berlangsung. Meski pada prinsipnya Muktamar merupakan ajang regenerasi, bedanya dengan organisasi lain yang jelang reorganisasi biasanya akan ada kusak kusuk persaingan perebutan ketua umum (ketum). Bedanya Muhammadiyah bisa lebih “ayem tentrem” lantaran dalam budaya Muhammadiyah tidak mengenal istilah pemilihan ketum secara langsung, melainkan pemilihan ketum ditentukan oleh 13 formatur. Sehingga tidak ada istilah dimana kandidat dengan suara terbanyak, akan didapuk menjadi ketum persyarikatan yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan ini.

Sehingga kami sebagai warga Muhammadiyah sekalipun, sangat jarang yang tertarik mendiskusikan prihal pusaran caketum secara serius. Malah yang menjadi fokus utama pada setiap agenda Muktamar adalah berbagai kegiatan yang menyertainya. Seperti momen Muktamar kali ini, pengembira menjadi topik menarik, dimana jutaan kader, warga dan juga simpatisan Muhammadiyah non perwakilan pengurus berkumpul menjadi satu untuk ikut mengembirakan acara Muktamar. Sekedar informasi, untuk perwakilan pengurus dari level Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan juga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) yang mengikuti serangkaian proses sidang Tanwir dan sidang-sidang lain sebagainya, selanjutnya akan disebut Muktamirin.

Dialogis Keummatan
Perhelatan Muktamar Muhammadiyah di Solo memiliki keunikannya tersendiri, masuk bagian dari agenda besar di Solo pada bulan November 2022. Muktamar seakan mendapat ruang di hati masyarakat, bahkan beberapa bulan sebelumnya, banyak dari masyarakat yang dengan antusias ikut “nimbrung” dalam berbagai diskusi seputar persiapan menjelang Muktamar.

Salah satu topik yang memantik gairah masyarakat untuk ikut berpartisipasi pada agenda Muktamar tidak lain adalah datangnya tiga juta lebih rombongan pengembira yang datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Apalagi ada prediksi kalkulasi angka ratusan miliar lebih uang yang berputar pada momen Muktamar. Menjadi penyulut animo masyarakat untuk ikut berpartisipasi menyambut lawatan muktamar di Solo, salah satunya dengan membuka stand-stand jajanan, oleh-oleh, maupun berbagai promo menarik perkulineran setingkat warungan, hingga kuliner setingkat lestoran. Semuanya sama-sama berharap “ketiban” berkah dari pengembira muktamar yang memadat di Solo.

Menariknya lagi, Muhammadiyah yang sangat memahami berbagai geliat UMKM masyarakat sekitar Solo, berusaha memberikan fasilitas serta akses bagi masyarakat yang ingin bergabung dengan cara menggelar pameran akbar di De Tjolomadoe dengan menjadikan agenda destinasi pengembira. Ratusan stand bazar pun dengan sekejap ludes terpesan.

Pola komunikasi dan metode Muhammadiyah yang luwes dalam memahamkan masyarakat akar rumput mengenai aktivitas bermuhammadiyah bisa dikatakan jempolan. Patut diparesiasi lantaran hajat yang seharusnya hanya menyibukan warga intren Muhammadiyah, nampaknya masyarakat sekitar Solo tidak kalah ambil peran. Banyak yang menjalin kolaborasi untuk ikut membuka stand bazar, bahkan recruitmen volunter OjekMu yang target kuotanya 1.000, setelah dibuka beberapa hari jumlah pendaftar melebihi target. Fakta ini memperkuat persepsi yang punya “gawe” Muktamar tidak hanya warga Muhammadiyah, melainkan semua elemen masyarakat di Solo juga merasa ikut memiliki “gawe”. Bahkan tidak sedikit umat non islam yang juga ikut menyibukan diri ikut menyemarakan Muktamar dengan membuka stand berbagai produk UMKM yang dijajakan di sepanjang jalan Solo.

Kunci sukses Muhammadiyah di akar rumput merupakan buah dari pendekatan yang humanis dan juga dialogis. Saling memahami keterbutuhan dengan membuka akses kolaborasi terbuka menjadi salah satu nilai tersendiri. Selain itu, modal yang sudah lama dimiliki Muhammadiyah dalam mendapatkan simpati masyarakat adalah tidak mengedepankan egosentris kelembagaan. Melainkan menjunjung tinggi etika dan juga toleransi.

Spirit Pencerahan
Nampaknya kepemimpinan bangsa ini harus banyak belajar pada Muhammadiyah. Belajar metode dan konsistensi Muhammadiyah dalam menjalankan perannya, sebagai bukti otentik pada masa awal Muhammadiyah berdiri, Muhammadiyah telah berhasil melakukan gebrakan gerakan pembaharuan, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan juga kesetaraan gender. Kemudian seiring berjalannya waktu Muhammdiyah terus inovatif dengan menghadirkan berbagai gerakan-gerakan pencerahan.

Saat ini dengan mengusung tema "Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta." Muhammadiyah semakin memantabkan diri untuk semakin memaksimalkan perannya berkontribusi bagi bangsa dan nantinya untuk yang lebih luas lagi yakni dunia internasional. Semangat dan juga militansi Muhammadiyah perlu diteladani oleh dan untuk semua elemen keormasan. Sehingga model gerakan yang mengarahkan pada tindakan intoleran bisa terhindarkan, karena ada alternatif dakwah yang lebih humanis seperti Muhammadiyah yang diyakini sebagai aktualisasi dari prinsip dakwah nabi Muhammad yang mengedepankan “Ud'u il? sab?li rabbika bil-?ikma” yang artinya “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah,” selanjutnya diteruskan dengan “wal-mau'i?atil-?asanati wa j?dil-hum billat? hiya a?san” yang berarti “pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Dari potongan ayat Surat An-Nahl, menjadi penutup catatan singkat ini sekaligus sebagai representasi model dialogis Muhammadiyah dalam berdakwah. Tidak dengan berbagai paksaan ataupun kekerasan, namun melalui proses komunikasi yang mengedepankan nilai-nilai keluhuran adab dan keluhuran budi seorang muslim.

Role Model Gerakan
Muhammadiyah memang sudah seharusnya mengambil peran penting dalam rangka mempolarisasi gerakan dakwah, sekaligus menjadi role model gerakan yang efektif dengan mampu menjawab tantangan zaman. Kedepan pastinya akan ada segudang permasalahan pada banyak sektor, baik di ranah kenegaraan maupun keummatan yang perlu terjawab oleh Muhammadiyah. Tentunya proses aktualisasi gerakan dengan menegakan “Amar makruf nahi mungkar” berdasarkan prinsip-prinsip keteladanan kanjeng nabi Muhammad. Akan sangat memungkinkan manakala dapat terlaksana dengan baik, niscaya mewujudnya “rahmatan lil alamin” menjadi relisasi yang tidak sekedar isapan jempol teoritis. Akan tetapi dapat teraplikasikan pada kenyataan.

Terakhir pada agenda Muktamar ke-48 ini, yang nampaknya juga akan membahas berbagai isu kebangsaan, mulai dari ketahanan keluarga, sistem perpolitikan yang mengarah para pelaksanaan pemilu, suksesi kepemimpinan hingga evaluasi-evaluasi kebijakan. Harapannya Muktamar kali ini akan melahirkan produk-produk gerakan yang lebih segar dan semakin kuat mendekatkan pada kemajuan bangsa.

Dengan mengusung tema "Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta." Muhammadiyah mempunyai komitmen hebat, berupaya mengayomi dan merangkul kepada masyarakat tidak hanya Indonesia melainkan masyarakat di seluruh dunia. Sekali lagi selamat bermuktamar ria bagi para pengembira, jadikan momen Muktamar sebagai ajang silaturahim, silatul fikri dan juga silatul amal. Serta menjadikan Muktamar sebagai wahana penguatan simpul-simpul persatuan dan kesatuan.