Menjadi Perempuan Produktif Di Era Transformasi Digital

img

Menjadi perempuan produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat yang sesuai dengan kapasitasnya memerlukan bekal pengetahuan dan ilmu yang relevan agar mendapatkan hasil yang terukur. Dalam Qs. al-Mujadillah ayat 11 disampaikan bahwa, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman serta orang-orang yang menuntut ilmu beberapa derajat”. Allah tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam menuntut ilmu.

Allah subhanaahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan yang tinggi dan mulia bagi siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu di jalan Allah. Bahkan Allah akan memudahkan baginya ke surga bagi siapa saja yang menuntut ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan. Allah juga menurunkan Al-Qur’an surat al-‘Alaq yang berisi perintah membaca.

Allah menurunkan Al-Quran untuk dibaca dan dipahami lalu diamalkan. Membaca pesan alam semesta, membaca lingkungan sekitar kemudian mengamalkan apa yang harus dilakukan berdasarkan hasil bacaannya. Allah tidak hanya memerintahkan untuk mengetahui secara kognitif saja, tetapi hendaknya mampu memahami kemudian melakukan action atau tindakan sebagai wujud rasa tanggung jawab terhadap apa yang telah diketahui.

Seperti apa peran perempuan agar menjadi bagian dari terbentuknya peradaban dari semua aspek, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan stabilitas negara? Islam menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki dalam haknya mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal agar perempuan mampu berpartisipasi dan berkontribusi dalam membangun peradaban.

Saat ini perempuan memiliki kesempatan yang luas dalam berkontribusi. Kemampuan apapun yang dimiliki oleh perempuan, dapat dikembangkan untuk membina dan memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Berbeda dengan era R.A. Kartini, adat istiadat pada waktu itu tidak mengizinkan perempuan mendapatkan pendidikan dan bekerja di luar rumah, serta menduduki jabatan penting di masyarakat. Perempuan di masanya tidak dibebaskan untuk meraih cita-citanya. Kegelisahan R.A. Kartini, melihat kaum perempuan di sekitarnya yang tidak mendapatkan pendidikan yang optimal, menggerakkan hatinya untuk mendirikan sekolah putri. Ia ingin agar kaum perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal pendidikan.

Menurut R.A. Kartini, dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” di halaman 11, terjemahan Armjin Pane, disebutkan bahwa jika perempuan terdidik, maka ia akan pandai mendidik anaknya, dan lebih pandai dalam mengurus rumah tangganya, dan akhirnya menjadi majulah bangsanya. Ini sangat sejalan dengan tahapan beramal yang pertama, yaitu memperbaiki diri dengan belajar menuntut ilmu. R.A. Kartini bercita-cita ke Belanda untuk menuntut ilmu, berniat belajar kedokteran dan berniat pula belajar kebidanan. Meskipun akhirnya beliau memutuskan menjadi pendidik atas nasihat Mr. Abendanon.

Selanjutnya, tahapan amal yang kedua yaitu memperbaiki kualitas keluarga dengan menyadarkan masyarakat yang masih beragam pemahamannya. Kebiasaan yang tidak sesuai harus diluruskan. Dengan adanya masyarakat yang baik, akan terbentuk negara yang beradab, bermartabat, makmur, dan damai. Itu artinya perempuan pun dapat berkontribusi untuk negaranya.

Pendidikan memiliki peran yang penting untuk menjadi salah satu komponen perubahan. Itu pula yang dilakukan R.A. Kartini yang menjadi seorang pendidik untuk meningkatkan martabat perempuan. Meskipun R.A. Kartini pernah dipingit oleh keluarganya, tetapi ia tak pernah berhenti belajar. Ia mahir berbahasa Belanda, bahkan rajin menulis di majalah dan koran pada masa itu. Dengan menulis, ia dapat menuangkan ide dan pendapatnya melalui media masa. R.A. Kartini adalah salah satu perempuan yang produktif di masanya. Ia tidak sudah banyak melakukan tindakan nyata untuk mengentaskan kebodohan kaumnya.

Bagaimana peran perempuan dalam era transformasi digital? Mampukah perempuan lebih produktif? Apakah ia mampu berperan aktif untuk berkontribusi membangun peradaban dengan memanfaatkan tekhnologi yang serba digital?. Menurut kbbi.web.id, produktif berarti mampu mendatangkan manfaat, atau hasil yang lebih besar. Sedangkan, transformasi digital merupakan bagian dari proses teknologi yang lebih besar yang berhubungan dengan penerapan tekhnologi digital dalam semua aspek kehidupan masyarakat.

Transformasi digital mampu menghasilkan konsep paperless dan mempengaruhi efektivitas kerja seseorang. Transformasi digital memudahkan pekerjaan penggunanya. Masalah yang rumit menjadi mudah dengan adanya teknologi. Dahulu, R.A. Kartini menggunakan surat untuk berkomunikasi dengan teman-temannya di Belanda. Kini, dengan adanya transformasi digital, mengirim surat dapat melalui email. Setiap orang mampu melakukan komunikasi dengan cepat dan tanpa batas di seluruh dunia. Setiap orang dapat melakukan transaksi dengan mudah.

Kini, dengan adanya revolusi industri, pengguna internet di seluruh dunia hampir 3,5 milyar, dan hampir 5 milyar orang menggunakan smartphone (Edueka.id). Ini menjadikan perempuan memiliki kesempatan yang sangat luas untuk lebih produktif. Jika R.A. Kartini mampu mendirikan sekolah putri, maka seharusnya perempuan masa kini dapat dengan mudah mengadakan sekolah virtual yang mampu menjangkau seluruh wilayah di dunia.

Dalam sebuah hadits dikatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Para perempuan di masa Rosulullah Muhammad SAW sudah membuktikan perannya. Rosul tidak membatasi perempuan untuk beraktivitas sesuai dengan kemampuannya. Sebut saja Khadijah binti Khuwailid, seorang pengusaha sukses di zamannya, aktif melobi kaum elit Mekah untuk membantu perjuangan Nabi Muhammad SAW. Kini, perempuan pengusaha mampu melakukan transaksi tanpa batas dengan internet dan bias melakukan digital marketing agar pangsa pasar semakin luas jangkauannya.

Aisyah radhiallahuanhu, istri Rosulullah SAW, merupakan perempuan cerdas yang menyampaikan hadits nabi kepada para sahabat. Perempuan masa kini pun dapat melakukan hal serupa dengan menyampaikan pesan Rosul melalui media sosial dalam berbagai bentuk. Teknologi virtual memudahkan orang mengakses informasi. Pembelajaran jarak jauh dapat dilakukan untuk menyampaikan ajaran Islam. Akses mendapatkan informasi mampu menembus batas teritorial.

Apapun profesi yang diemban perempuan, dengan adanya transformasi digital, perempuan diharapkan mampu melakukan kegiatan yang lebih produktif untuk meningkatkan hasil yang optimal dan bermanfaat bagi sesama. Seperti yang disampaikan R.A. Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, R.A Kartini merupakan harapan bagi rakyat jelata untuk menjadi teladan, menjadi rahmat (pemberi kasih sayang), menjadi tempat banyak orang berlindung, menjadi pohon yang rindang tempat orang bernaung dari panas matahari. Jadilah perempuan produktif di era transformasi digital.

Tunjukkan skill-mu, wahai perempuan Indonesia!

 

 

Ditulis oleh Tri Handayani, Kota Magelang – Pemenang Terbaik 1 Penulisan Artikel Hari Kartini BPKK DPW PKS Jawa Tengah