Transformasi Kartini Di Era Digital

img

Rasa-rasanya terlalu receh jika peringatan Hari Kartini hanya berhenti pada perdebatan soal kebaya dan sanggul saja. Bukan hanya itu, terlalu naif jika peringatan Hari Kartini hanya seputar pembahasan pemikiran Kartini dalam surat-surat beliau pada kawan-kawannya. Telah lebih dari limapuluh tahun kita memperingati Hari Kartini, sudah begitu banyak model kebaya yang dipesan para ibu pejabat untuk memperingati Hari Kartini. Audah berapa banyak debat terbuka digelar untuk membahas mengapa Kartini dan Bukan Cut Nyak Din atau Dewi Sartika. Sebagai seorang perempuan, saya sangat yakin, bukan itu yang diinginkan oleh Kartini. Kartini hanya ingin perempuan mampu mengoptimalkan seluruh potensinya untuk menjadi lebih bermanfaat bagi kehidupan.

Kaum perempuan dahulu bertanya, “Saya hanya seorang perempuan, saya bisa apa?” Pertanyaan macam ini seringkali menjadi sebuah alasan untuk semua keterbatasan kita. Pertanyaan senada seperti, “Saya hanya orang desa, saya bisa apa? Saya hanya anak kecil, saya bisa apa? Saya hanya lulusan SD, saya bisa apa?” Sungguh pertanyaan-pertanyaan pesimistif seperti ini seringkali justru menjadi belenggu atas segala potensi kita.

Kartini mencoba mengubah pertanyaan itu, “Apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan untuk kaumnya, untuk bangsanya, dan untuk negerinya?” Pertanyaan ini akan menemukan jawaban yang jauh berbeda dengan pertanyaan sebelumnya.

Kita semua tahu, perempuan memiliki perbedaan dengan laki-laki, secara fisik sudah jelas berbeda. Perbedaan ini memberikan fungsi dan peran yang berbeda untuk beberapa hal pada perempuan. Namun perlu kita garis bawahi, di luar perbedaan itu, ada begitu banyak persamaan antara laki-laki dan perempuan. Dan yang lebih penting lagi, seluruh manusia, bahkan anak kembar sekalipun, memiliki bakat, karakter, kecenderungan yang berbeda-beda. Perbedaan itu sendiri adalah sebuah rahmat yang luar biasa, yang harus kita syukuri.

Jika kita terus membenturkan perbedaan gender, maka kita akan terus terjebak pada hal yang tidak esensi, justru kontraproduktif. Perempuan dan laki-laki bukan dua pasukan yang sedang berhadapan, di mana yang satu harus mengakui kehebatan yang lain. Lebih penting dari semua itu adalah keduanya saling membutuhkan, keduanya memiliki potensi masing-masing yang dapat kita optimalkan untuk kehidupan.

Perempuan Indonesia dari waktu ke waktu telah membuktikan kiprahnya di kancah nasional maupun internasional. Tak terhitung jumlahnya perempuan Indonesia yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, yang menjadi pejabat tinggi, bahkan Indonesia sudah pernah punya seorang presiden perempuan. Jika hari ini masih ada sebagaian masyarakat yang memandang rendah peran perempuan, maka sama saja mereka merendahkan level pengetahuan mereka sendiri. Dan perempuan tak perlu terlalu risau dengan golongan ini, karena tugas kita bukan membuktikan pada mereka atau siapa pun. Tugas kita adalah terus mengoptimalkan seluruh potensi agar semakin bermanfaat bagi kehidupan.

Berbicara mengenai optimalisasi potensi perempuan, saat ini di era digital, di mana segala informasi menyebar sangat cepat, perempuan sebetulnya dapat mengambil keuntungan yang lebih besar. Betapa tidak, dengan adanya teknologi, kini perempuan dari rumah saja bisa mengakses sumber pengetahuan dan berjejaring sosial secara global, bahkan membangun kerajaan bisnisnya di seluruh dunia. Ini sangat baik dari sisi keamanan untuk perempuan itu sendiri. Meskipun pelecehan seksual, seperti sex texting, body shaming, dan scammer yang seringkali di alami perempuan di dunia sosial media tetap tidak bisa kita remehkan. Namun, ini jauh lebih aman ketimbang kontak fisik yang bisa mengenai perempuan secara langsung. Setidaknya perempuan punya pilihan untuk memblokir dan me-report tindakan tersebut sesegera mungkin.

Pembekalan terhadap perempuan terkait pengetahuan digital adalah langkah pertama yang harus kita lakukan agar perempuan dapat mengikuti perkembangan zaman. Secara intelektual, perempuan memiliki kesetaraan dengan laki-laki, maka tidak ada kendala intelektual dalam transformasi budaya digital ini.

Kelas-kelas terkait teknologi informasi dan komunikasi digital pun saat ini menjamur dan mudah dijangkau. Program pemerintah, program BPKK, program swadaya masyarakat untuk membantu perempuan dalam meningkatkan skill digital terbuka luas. Kendala yang seringkali terjadi justru pada kemauan perempuan itu sendiri untuk maju. Perempuan merasa gaptek, merasa sudah terlalu tua untuk belajar teknologi komunikasi, merasa sudah disibukkan dengan urusan domestik rumah tangganya masing-masing, merasa sudah cukup dengan pengetahuan yang dimilikinya saat ini, dan seribu satu alasan lainnya.

Suka atau tidak suka, kenyataan itu lah yang kita temui di lapangan. Namun ketika ada tantangan itu lah, kesempatan bagi kita untuk menjadi Kartini masa kini. Perjuangan Kartini mengubah mindset perempuan di masanya pun sama sekali bukan hal yang mudah. Jika mudah buat apa kita peringati hari Kartini setiap tahun? Setiap era akan membutuhkan pahlawannya sendiri, setiap persoalan akan membutuhkan solusinya sendiri, sayangnya tidak setiap orang berani memulai perubahan dan memiliki keberanian untuk menjadi pahlawan dan problem solver.

Berdasarkan data dari We Are Social, pengguna sosial media Indonesia saat ini mencapai 191, 4 juta. Artinya hampir 90% penduduk Indonesia menggunakan sosial media. Rata-rata satu orang menghabiskan waktu satu jam hingga tiga jam untuk bersosmed. Jika kita seorang pedagang, maka ini adalah peluang besar bagi kita untuk meluaskan pasar. Jika kita seorang pendidik, maka ini adalah saatnya menggunakan sosial media untuk menyebarluaskan ilmu kita. Jika kita seorang daiyah, maka tak ada pilihan lain bertemu dengan objek dakwah kita melalui sosial media.

Banyak perusahaan berinvestasi besar-besaran agar bisa bertransformasi di era digital. Entah berapa trilyun yang mereka keluarkan demi menguasai teknologi digital saat ini. Uniknya dunia sosial media, mereka memiliki algoritma organik yang memungkinkan siapa pun yang punya ketekunan untuk bisa menguasai dunia digital. Namun, mereka juga menyediakan vitur berbayar bagi siapa saja yang punya uang untuk menguasai dunia digital. Jika kita tak punya cukup modal untuk berinvestasi, setidaknya kita punya cukup semangat agar bisa mengimbangi mereka yang punya modal besar.

Jika Kartini hidup hari ini, mungkin Kartini akan bertanya, “Apa yang bisa dilakukan perempuan Indonesia di era digital? Perempuan bahkan bisa menghasilkan uang dari dalam kamarnya, bisa mengakses pengetahuan dari guru-guru yang luar biasa hanya dengan jari-jarinya, di mana ide seorang perempuan bisa dibaca ribuan bahkan jutaan manusia hanya dengan meng-upload-nya di sosial media?”

Lalu, apa jawaban kita?

***

Ditulis oleh : Syifa Mairi Iedelina, BPKK Banyumas- Pemenang Terbaik II Penulisan Artikel Hari Kartini BPKK PKS Jawa Tengah