Psike Kartini: Perempuan Berdaya Indonesia

img

Istimewa

“Dan biarpun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya sudah terbuka, dan saya ada turut membantu mengadakan jalan menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri”

(R. A. Kartini)

 

Mengapa Memilih Pemberdayaan?

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Hal ini membuat Indonesia memiliki banyak daerah yang terbagi-bagi menjadi provinsi, kota, hingga desa. Selain tinjauan dari segi geografis, masyarakat Indonesia memiliki latar kehidupan sosial yang heterogen ditinjau dari segi sosial. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi pemberdayaan yang strategis.

Adi (2008: dalam Bagus Aryo, dkk) pemberdayaan pada dasarnya sama dengan self determinator yaitu dorongan individu untuk menentukan sendiri apa yang harus ia lakukan dalam kaitannya dengan upaya mengatasi permasalahan yang ia hadapi sehingga mempunyai kesadaran dan kekuatan penuh dalam membentuk hari depannya. Berdasarkan pendapat tersebut, ada beberapa simpulan. Pertama, bahwa dalam proses pemberdayaan dorongan yang utama adalah individu. Kedua, untuk bisa menghasilkan individu yang dapat mendorong dirinya sendiri membutuhkan sarana-sarana. Oleh karena itu, potensi manusia Indonesia yang melimpah ini perlu dibangun sarana-sarana dalam rangka meningkatkan self determinator dalam setiap diri manusia Indonesia.

 

Mengapa Memilih Perempuan?

“Ibu adalah sekolah yang jika engkau telah mempersiapkannya berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik.”

(anonim)

Sebuah pepatah Arab mengatakan bahwa aka nada perbedaan antara pohon yang tumbuh di kebun dengan pohon yang tumbuh di tengah padang rumput. Anak diibaratkan sebagai pohon. Perempuan (ibu) adalah yang dimaksudkan di sana sebagai perumpamaan kebun atau padang rumput. Jika seorang perempuan (ibu) dipersiapkan, maka hakekatnya telah mendidik sebuah bangsa. Oleh sebab itu, menciptakan sarana agar perempuan Indonesia memiliki self determinator merupakan langkah utama bagi titik awal kebangkitan bangsa.

“Dan biarpun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya sudah terbuka, dan saya ada turut membantu mengadakan jalan menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri”

(R. A. Kartini)

Berdasarkan kalimat bijak R.A Kartini di atas, dapat diambil beberapa poin tentang pemikiran R.A Kartini. Pertama, R.A Kartini adalah seorang perempuan berdaya terbukti bahwa pemikirannya melampaui masa dan zamannya. Tidak sedikit orang di masa itu tidak mampu melakukan apapun untuk mengatasi alotnya adat tentang perempuan, R.A Kartini mampu membuka secercah harapan atas hak tumbuh cerdas.

Kedua, R.A Kartini telah melakukan langkah pemberdayaan yang dapat dilihat dari kalimatnya yang berbunyi “dan saya ada turut membantu mengadakan jalan”. Sebagai seseorang perempuan ia ikut serta dalam berjuang. Berdasarkan pemikiran R.A Kartini, perjuangan utama wanita pada saat itu adalah hak untuk tumbuh cerdas untuk mencapai kemerdekakan Indonesia. Walaupun ia tidak tahu apakah ia dapat menikmati hasil perjuannya, tetapi ia tetap bahagia menjadi sarana menuju cita-citanya yang mulia tersebut.

 

Bagaimana Perempuan Berdaya?

Sebagaimana pandangan progresif R.A Kartini bahwa kunci pemberdayaan perempuan ada pada tingkat pendidikannya. Ilmu diibaratkan sebagai cahaya. Semakin banyak ilmu, maka daya self determinator-nya juga akan besar. Sarana pemberdayaan perempuan Indonesia bisa melalui berbagai hal sebagai berikut.

  1. Sarana pemberdayaan berbasis agama 
  2. Adapun contoh sarana pemberdayaan perempuan berbasis agama adalah kelompok majelis taklim, pembinaan pekanan, pembinaan pesantren, jemaah pengajian, dan sebagainya. Melalui pemberdayaan berbasis agama perempuan akan belajar tentang kedudukan manusia serta hak dan kewajibannya. Oleh karena itu, perempuan akan bertumbuh menjadi pribadi yang kuat sesuai perannya sebagai makhluk.
  3. Sarana pemberdayaan berbasis keterampilan dan profesi 
  4. Contoh sarana pemberdayaan perempuan berbasis keterampilan dan profesi adalah sekolah baik formal maupun non-formal, komunitas UMKM perempuan UPPRINTIS, komunitas menulis online, dan lain-lain. Melalui perkumpulan keterampilan dan profesi, perempuan dapat menemukan kemantapan dalam perannya di masyarakat. Selain itu, dapat bertukar pikiran sehingga mengembangkan jiwa profesionalitas dan totalitas dalam beramal.
  5. Sarana pemberdayaan berbasis anak dan keluarga
  6. Sedangkan contoh sarana pemberdayaan perempuan berbasis anak dan keluarga contohnya adalah komunitas Ibu Profesional, Komunitas mpasibayisehat, dan lainnya. Keluarga adalah organisasi terkecil dari sebuah negara. Keluarga adalah wahana belajar pertama. Ketahanan keluarga adalah kunci utama ketahanan individu ketika ia berada di luar keluarga. Sebab keluarga adalah tempat kembalinya setiap individu. Seberapa tinggi kedudukannya kelak ia pasti akan kembali kepada keluarga. Oleh karena itu, pemberdayaan berbasis anak dan keluarga menjadi salah satu sarana penting dalam upaya pemberdayaan perempuan.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

(Q.S. al-Hujurat:13)

 Seiring berkembangnya zaman, arus komunikasi sangat cepat dan lancar. Media yang dapat dikembangkan dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan bisa berbasis digital maupun konfensional. Sebagai perempuan Indonesia, saya mengambil pelajaran berharga dari kehidupan singkat R.A Kartini. Pertama, wanita memiliki kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki yaitu sebagai makhluk. Konsekuensi menuntut ilmu adalah bagi semua makhluk tanpa terkecuali. Kedua, sebagai perempuan harus memiliki jiwa pandang yang luas sehingga mendidik diri untuk bijaksana menghadapi zaman. Ketiga, optimalkan kemampuan untuk perbaikan lingkungan dan suatu ketika pasti akan menuai hasil.

 

Terima kasih R.A Kartini. Perempuan Jawa yang anggun, tetapi penanya tajam menembus zaman.

 

Ditulis oleh Amrih Setiowati, BPKK Kabupaten Semarang-Pemenang Terbaik III Penulisan Artikel Hari Kartini BPKK PKS Jawa tengah