PERAN AYAH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK DAN DAMPAK FATHERLESS CHILDREN

img

Ayah dan Anak

Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memantau, mendampingi, dan membentuk  pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Peran ini dapat dijalankan dengan kolaborasi ibu dan ayah. Sosok seorang ayah tidak akan lengkap dan sempurna tanpa adanya peran seorang ibu, begitu pula sebaliknya. Peran seorang ibu memang terlihat paling kuat dan lebih berat daripada peran seorang ayah karena ibu yang berjuang melahirkan anak-anaknya. Namun, keduanya tak bisa dipisahkan karena memiliki kedudukan yang sama pentingnya dalam suatu keluarga. Ibu adalah seorang pendidik terbaik, dan ayah adalah role model bagi anak-anaknya.

 

Sosok Ayah Teladan

 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah sosok teladan dalam segala hal. Sikap, perkataan, dan perbuatan Rasulullah terhadap anak-cucunya merupakan sumber ilham bagi setiap pria Muslim untuk menjadi ayah impian bagi anak-anaknya. Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bukan cuma dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan disegani, tetapi juga sosok yang amat lembut dan penyayang terhadap anak-anak.

Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mencium Hasan bin ‘Ali, sedang pada waktu itu di samping beliau ada ‘Aqra bin Habis at-Tamimi, Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’ Rasulullah lalu memandang ‘Aqra dan bersabda, ‘Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak disayangi.”

Sosok ayah teladan juga ada pada diri sahabat. Salah satunya adalah Umar bin Khathab radhiallaahu ‘anhu. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ’anhu pernah berjalan merangkak, sedangkan anak-anaknya naik di punggungnya sambil bermain. Umar berjalan seperti kuda. Orang-orang pun masuk dan melihat Khalifah mereka sedang melakukan hal itu. Mereka berkata: “Apa Engkau pantas melakukan hal itu, wahai Amirul Mukminin? Umar menjawab, “Ya, benar. Umar juga pernah berkata: “Seorang ayah seharusnya menjadi seperti anak-anak (yaitu dalam kelembutan dan keterbukaan) dalam keluarganya.” Beginilah seharusnya sikap seorang ayah bersama anak-anaknya di rumah. Sedangkan bila bersama khalayak, ia harus menjadi laki-laki (yang tegas). (Ahmad al-Qhathan, hal. 24).

Jika contoh di atas ada pada rasul dan sahabat, maka lihat pula bagaimana dengan keteladanan Luqman. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.

 

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai Anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. Luqman 31:13)

Bahkan untuk pendidikan anak perempuan sekalipun, hendaknya seorang ayah tidak melemparkan tanggung jawab kepada sang istri. Contohnya adalah bagaimana kesuksesan Nabi Zakaria ‘alaihissalam dalam mendidik dan membesarkan Maryam.

 

 

Peran Ayah Menurut Islam

 

Berikut sejumlah peran ayah dalam keluarga menurut Islam yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

1.       Mempersiapkan Anak sebagai hamba (Abdan) dan Khalifah

Ayah punya tugas untuk membimbing anaknya sejak kecil agar menjadi hamba sekaligus khalifah yang baik. Idealnya, peran ayah sangat besar dalam menyiapkan anak untuk menghadapi tantangan hidup. Ayah memiliki peran mengajarkan anak tentang perilaku yang diharapkan secara sosial. Ini membantu anak-anak untuk belajar perbedaan antara yang benar dan salah, serta memampukan anak-anak untuk mengalami dan memahami konsekuensi-konsekuensi dari perilaku mereka sendiri.

Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa sudah memerintahkan agar seorang ayah mempersiapkan anak-anaknya agar betul-betul menjadi hamba sekaligus khalifah yang baik.

 

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. an-Nisa: 9)

 

2.    Sebagai Pemimpin dalam Keluarga (Leader)

Islam menempatkan ayah sebagai pemimpin dalam keluarga, seperti  disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abdullah bin Umar radhiallaahu ;anhu bahwa dia mendengar Rasulullah telah bersabda: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya… (H.R. Bukhari).

Seorang pemimpin keluarga harus bertanggung jawab dan bijaksana untuk membawa dan mengarahkan keluarganya ke jalan yang lebih baik. Ia harus menjadi suri teladan yang tidak hanya memerintah dan membimbing anaknya, tetapi juga memberi contoh konkret.

 

3.    Pencari Nafkah Keluarga

Peran ayah dalam keluarga selain sebagai pemimpin adalah sebagai pencari nafkah untuk keluarganya. Ayah sebagai penyedia keperluan sumber daya utama bagi keluarga. Ayah menyediakan uang, makanan, tempat tinggal, dan pakaian untuk anak dan keluarganya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...” (Q.S. an-Nisa: 34).

Seringkali para ayah menganggap bahwa tugasnya hanya sekadar penyedia keperluan yang bersifat material. Ini tentu pendapat atau pandangan yang tidak tepat. Ayah juga perlu terlibat menyediakan bimbingan, bermain bersama anak, terlibat dalam kegiatan sekolah anak, dan kegiatan-kegiatan komunitas yang mendukung perkembangan anak.

 

4.    Mencarikan Pendamping yang Baik untuk Anaknya

Peran ayah dalam keluarga yang selanjutnya adalah mencarikan pendamping yang baik untuk anaknya. Hal ini bukan berarti menjodohkan anak atau memaksanya untuk menikahi calon pilihan orang tua. Dengan memilihkan suami yang baik, ayah telah berusaha memastikan masa depan dunia dan akhirat anak perempuannya.

 

5.       Ayah sebagai Teman Bermain

Seorang anak bisa belajar lewat kegiatan bermain. Begitu juga seorang ayah bisa menanamkan banyak nilai dan pelajaran melalui kegiatan bermain bersama anaknya. Anak belajar membangun ikatan emosi positif dengan ayahnya.

Perilaku ini juga dicontohkan Rasulullah . Beliau sering bercanda bersama cucunya, Hasan dan Husein. Beliau juga sering bermain kuda-kudaan dengan cucunya.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani dari sahabat Jabir, ia mengatakan, “Saat aku menemui Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wassalaam dan aku temui beliau sedang berjalan empat kaki (main kuda-kudaan) dan di atas punggungnya ada Hasan dan Husain dan Rasullah pun bersabda, 'sebaik baiknya unta adalah unta kalian berdua (Rasulullah) dan sebaik- baik orang adil adalah kalian berdua'," (Al Hadits).

 

6.    Peran Ayah sebagai Pendidik (Educator)

Peran ayah dalam keluarga yang selanjutnya adalah menjadi pendidik keluarga. Dalam surat Luqman ayat 13-19, menyiratkan bahwa seorang ayah memiliki peran sebagai pemimpin sekaligus pendidik bagi anaknya.

Seorang Ayah adalah guru bagi anak-anaknya, baik di dalam maupun di luar rumah. Cakupan pendidikan yang bisa diberikan pada anaknya begitu luas. Tidak hanya masalah kognitif, tetapi juga afektif, bahkan spiritual. Bukan hanya pendidik dalam hal akademik saja, tetapi juga sosial dan nilai-nilai agama.

 

Fenomena Fatherless/Father-Absence/Futher-Hunger dan Dampaknya bagi Anak

 

Begitu pentingnya peran ayah dalam pendidikan anaknya, sangat disayangkan jika seorang ayah tidak bisa hadir sebagai sosok yang dibutuhkan anak dalam tumbuh kembangnya. Ketidakhadiran seorang ayah dalam membersamai perkembangan anak ini disebut dengan fatherless. Fatherless dapat didefinisikan sebagai tidak hadirnya seorang ayah baik secara fisik atau psikologis dalam kehidupan anak. Anak bertumbuh kembang tanpa kehadiran ayah, atau anak mempunyai ayah, tetapi ayahnya tidak berperan maksimal dalam proses tumbuh kembang anak.

Fatherless atau father hunger sebenarnya sebuah fenomena yang terjadi di seluruh belahan dunia. Mirisnya, seperti yang disampaikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Indonesia berada di urutan ketiga di dunia sebagai negara tanpa ayah atau sering disebut fatherless country. Faktor munculnya fatherless dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya perceraian, kematian ayah, pemisahan karena masalah dalam hubungan pernikahan, atau masalah kesehatan.

Kekuatan kepribadian anak merupakan hasil dari pengasuhan dan penanganan yang baik dari kedua orang tuanya. Ketika salah satu dari kedua orang tuanya tidak hadir, maka terdapat ketimpangan dalam perkembangan psikologisnya, di antaranya sebagai berikut.

 

1.    Kurang Percaya Diri

Ketika anak merasa diabaikan oleh ayahnya karena ayah tidak terlibat dalam kehidupannya, ia cenderung tumbuh menjadi orang yang kesulitan mengelola emosi dan merasa kurang percaya diri. Anak kesulitan dalam berinteraksi sosial sehingga tak sedikit yang menarik diri dari lingkungan.

 

2.    Masalah Perilaku

Anak fatherless kesulitan menyesuaikan diri di lingkungan sosial dan sering terlibat masalah terkait pertemanan.  Bentuknya bisa berbeda-beda, tetapi banyak yang menjadi angkuh dan mengintimidasi orang lain untuk menutupi rasa takut, benci, cemas, dan ketidakbahagiaannya.

 

3.    Penyimpangan Orientasi Seksual

Dikatakan oleh Biller (1974) bahwa father-absence akan melahirkan peningkatan konflik gender pada anak, dan kebingungan akan identitas gender yang meningkat pula. Selain itu, father-absence menciptakan peningkatan yang cukup signifikan akan terjadinya perilaku homoseksual di kalangan pria maupun wanita. Dengan demikian, ketidakhadiran peran ayah memunculkan penyimpangan orientasi seksual pada anak yang dimulai dari kebingungan identitas peran gender.

 

4.    Prestasi Akademik yang Rendah

Rendahnya prestasi akademik di sekolah bisa disebabkan oleh banyak faktor, ketidakhadiran ayah dalam kehidupan anak adalah salah satunya. Menurut psycologytoday.com, 71 persen siswa SMA yang dikeluarkan dari sekolah merupakan anak fatherless.

 

5.    Kenakalan Remaja dan Penyalahgunaan NAPZA

Menurut Hoffman, seorang pakar psikolog, menyatakan bahwa dampak dari ketiadaan peran Ayah dalam rumah dapat berujung pada penyalahgunaan obat-obatan.

Ini disebabkan karena kurangnya sentuhan dan gambaran sosok ayah di dalam dirinya. Ayah tidak berperan di dalam keluarga untuk memberi batasan yang tegas atas tingkah laku yang baik. Ketiadaan peran Ayah ini dapat berujung pula pada perilaku perilaku yang menjurus pada juvenile delinquency atau kenakalan remaja.

Mereka yang merasa kesepian ini biasanya akan cenderung mencari lingkaran yang sama. Jika lingkaran negatif yang mereka dapatkan, tak jarang mereka akan bergabung dengan anak-anak jalanan yang terpapar minuman keras atau kecanduan narkoba.

 

6.    Masalah Kesehatan Mental

Remaja yang tumbuh tanpa ayah lebih rentan terhadap tekanan emosional. Masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri, lebih besar kemungkinannya dialami oleh anak fatherless. Amarah yang tak terpendam, merasa berbeda dari anak lain dan perasaan tidak dicintai bisa memicu fatherless children hidup dalam tekanan dan kemudian mengalami depresi. 

 

Menjadi Ayah Keren

Untuk itulah dirinya menyarankan agar fenomena fatherless tidak menimpa keluarga kita, ada baiknya para ayah bisa menjadi idaman untuk anak dengan membuktikan rasa sayang atau cinta terhadap anak.

Untuk menjadi ayah yang keren, bisa dimulai dari hal-hal yang simpel seperti meluangkan waktu, memberikan telinga untuk mendengarkan kisah dari anak-anak, memberikan kehangatan melalui ciuman, pelukan, atau bentuk kasih sayang lainnya.

Peran ayah seharusnya dapat menjadi pelindung, penyokong materi dan model keteladanan bagi anak-anaknya. Idealnya, ayah dapat memberikan kenyamanan tempat tinggal dan keamanan dari bahaya yang mengancam secara fisik maupun psikologis. Dengan begitu, perlindungan, jaminan finansial, dan pemenuhan spiritual yang menyeluruh dapat menyentuh jiwa dan raga anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Keterlibatan ayah dalam pendidikan anak merupakan kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi. Jadi, para ayah yang telah mendedikasikan waktunya untuk tumbuh kembang anak bisa dikatakan sebagai ayah keren dan superdad sejati. (*Tin Zuleha*)

 

SELAMAT HARI AYAH DAN SELAMAT BERJUANG MENJADI AYAH KEREN!!

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur`an dan Al-Hadis

Abdurrahman. 2019. Peran Ayah dalam Pendidikan Anak Kajian Tafsir al-Azhar (Analisis Q.S. Lukman 13-19). Skripsi. Jurusan Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir. Lampung: Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.

Harmaini, Vivik Sofiah, Alma Yulianti. Tanpa tahun. Peran Ayah dalam Mendidik Anak. Riau: Center for Indigenous Psychology, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim.

Arie Rihardini Sundari, Arie Rihardini. Tanpa tahun. Dampak Fatherless terhadap Perkembangan Psikologis Anak. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI.

 

https://surabaya.jatimnetwork.com/gaya-hidup/pr-52973159/remaja-jadi-pecandu-narkoba-dan-homoseksual-bisa-jadi-karena-figur-ayah-tidak-hadir-di-rumah?page=all

https://www.orami.co.id/magazine/peran-ayah-dalam-keluarga/

https://media.neliti.com/media/publications/127544-ID-peran-ayah-dalam-mendidik-anak.pdf

https://www.orami.co.id/magazine/ini-6-peran-penting-ayah-dalam-mendidik-anak/

https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3645623/inilah-peran-ayah-dalam-mendidik-anak-laki-laki

 https://bimbinganislam.com/peran-ayah-dalam-pendidikan-anak/

https://bekasi.pikiran-rakyat.com/gaya-hidup/pr-121699289/fenomena-fatherless-di-indonesia-urutan-3-di-dunia-kehadiran-ayah-diperlukan-anak

https://www.republika.co.id/berita/qqtmvq368/pentingnya-kehadiran-ayah-bagi-tumbuh-kembang-anak