Mengenang Zuber Syafawi: USTADZ SEJAWAT ITU TELAH PERGI

img

H. Zuber Safawi

Oleh : A. Zaini Bisri

Dilahirkan di Kudus, 5 Agustus 1962, Zuber Syafawi lebih muda setengah tahun dari saya yang lahir di Tegal, 24 Januari 1962. Namun siapa tahu dia dipanggil lebih dulu ke haribaan-Nya pada hari ini, Kamis, 22 Juli 2021, masih pada hari tasyrik. Rupanya, Allah sudah mencukupkan rezeki baginya dan insya Allah dia syahid akhirat karena meninggal akibat covid.

Dari Kudus dan Tegal, kami – dan rekan-rekan satu angkatan yang lain, termasuk Wahid Hasyim Choiron yang berkhidmat di lembaga pendidikan Raudhotul Mujawwidin Semarang yang juga telah meninggal karena covid – disatukan dalam pengkaderan yang intens di dalam wadah Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Tengah pada era 1980-an. Saat itu, Zuber adalah figur idola bagi anggota PII Jateng. Selain wajahnya mirip Rano Karno, bintang film populer pada masa itu, dia juga kader PII yang menonjol dalam pemahaman dan praktik keagamaan.

Periode yang Berat

Profilnya sebagai ustadz sudah nampak sejak masa-masa remaja itu. Apalagi setelah lulus kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Unissula. Itulah sebabnya dia terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Jateng sampai dua kali, yakni periode 1984-1986 dan 1986-1988.

Periode itu masa-masa perjuangan yang berat karena PII harus bergerak “di bawah tanah” akibat imbas UU Keormasan di masa Orde Baru. Kami sering kucing-kucingan dengan aparat keamanan dalam setiap kegiatan. Pernah pimpinan puncak PII Jateng saat itu (terutama Zuber, Yanuar Noorachman, Hasyim Choiron, dan termasuk saya) dipanggil dan sempat ditahan di Kodim 0733 BS/Semarang.

Musyawarah Instruktur Nasional (MIN) di Bandarlampung pada Februari 1985 memutuskan dengan suara bulat bahwa PII menolak Asas Tunggal (Astung) Pancasila. Waktu itu PW PII Jateng diwakili oleh saya, Ahsanuddin (asal Comal), Ketua Koorwil PII Wati Mustabsyirotul Ummah (Tegal) dan Nurhayati (Kudus). Sedangkan Zuber berhalangan hadir.

Publikasi pertama tentang hasil keputusan MIN ini saya tulis sendiri dalam sebuah artikel kolom dua halaman di majalah Panji Masyarakat. Majalah ini tampak antusias memuat tulisan saya karena mungkin dianggap suara murni dari internal PII yang menjelaskan latar belakang keputusan tersebut. Judul artikelnya adalah “Ketiadaan Kekecewaan dalam Ketiadaan Kepastian”, menggambarkan suasana batin kami yang sangat sulit ketika harus memutuskan sikap politik yang tidak hanya bertentangan dengan kebijakan pemerintah, tetapi juga berseberangan dengan sikap kebanyakan ormas Islam lainnya dan pandangan umumnya alumni PII. Namun kami tidak kecewa dengan keputusan ini, yakin terhadap pendirian kami sendiri, meski situasi politik sulit diprediksi. Saat itu NU dan Muhammadiyah sudah menerima astung. 

Tokoh PKS Jateng

Kepribadian Zuber cukup memikat. Ramah, murah senyum, cenderung menghindari perdebatan dan konflik. Karena itu, ketika dia melanjutkan kiprahnya di Partai Keadilan (yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera = PKS) dan menjadi tokoh perintis Partai Keadilan di Jateng, saya agak sedikit heran. Kehidupan politik itu penuh konflik. Namun keheranan ini tidak lama bertahan setelah saya meyakini bahwa Partai Keadilan adalah partai dakwah, tidak semata-mata politicking demi kekuasaan tetapi – meminjam istilah “Bapak NKRI” Mohammad Natsir – “berpolitik untuk dakwah”.

Jalur dakwah lewat politik yang ditempuh Zuber tampaknya mengikuti mentornya di PII, Mutammimul Ula (alm) yang tercatat sebagai salah satu pendiri Partai Keadilan. Mas Tamim, begitu kami biasa memanggil beliau, adalah tokoh dakwah asal Solo yang sederhana, hemat bicara, tawadhu, dan rajin ibadah. Profil Zuber hampir menyamainya. Bedanya, Mas Tamim juga menonjol pemikirannya yang terlihat dalam sejumlah tulisannya. Maklum, beliau dulu pernah menggawangi Buletin “Media Pelajar” PII Jateng.

Mengenang Zuber tanpa menyebut kaitannya dengan PII terasa kurang nyambung, meskipun banyak alumni PII yang tampaknya tidak suka menyebut organisasi almamaternya itu dalam riwayat hidupnya. Organisasi ini sangat berperan baginya dalam pembentukan kepribadian dan orientasi kehidupannya, juga bagi banyak kader PII yang lain.

“Organisasi kader umat” ini telah membentuk gaya kepemimpinan bagi kadernya setelah terjun di masyarakat. Salah satu ciri kepemimpinan alumni PII adalah orientasinya pada persatuan umat dengan semboyan Izzul Islam wal Muslimin tanpa membedakan golongan. Militansinya mengenal semboyan “Tandang ke Gelanggang Walau Seorang”.

Dari ciri itu terjawab mengapa banyak kader PII yang berkiprah di PKS. Partai ini dianggap sejalan dengan cita-cita dan orientasi politik keagamaan kebanyakan kader PII. Tentu saja tidak sedikit kader PII yang merasa lebih cocok dengan partai lain, baik partai agama maupun partai nasionalis, sesuai dengan orientasi ideologisnya semasa aktif di PII. Ada yang cenderung ke kanan, ke kiri, tetapi kebanyakan cenderung ke tengah.

Zuber adalah salah satu kader PII yang cenderung ke tengah. Sejak lepas dari PII, termasuk ketika masih aktif di PKS, dia bertekad mengabdikan hidupnya untuk dakwah. Dalam salah satu video acara PKS, dia meneriakkan tekadnya itu sampai tiga kali: “Kita akan berdakwah sampai mati!”. Tekad itu dipenuhinya. Dia meninggal dalam keadaan dikenang sebagai tokoh dakwah dan dipanggil dengan sebutan “Ustadz Zuber”. 

Ujian Kesabaran

Insya Allah “Sang Ustadz” husnul khotimah. Hampir sepanjang hidupnya, Allah SWT – yang selalu dia khidmati dalam hidup keseharian dan dalam ibadahnya, termasuk dalam status-statusnya di Facebook – insya Allah telah banyak menggugurkan dosa-dosanya melalui penyakit batu ginjal yang dideritanya sejak remaja. Meskipun dia tidak pernah mengeluh, saya tahu dia sering kesakitan saat buang air kecil ketika kami sama-sama menjadi penghuni “Dodeti” (Jl. Dorang 83 Semarang), markas PII Jateng.

Setelah berumah tangga, peran dan ujiannya pun bertambah. Antara lain, ketika salah satu putrinya yang saat itu masih kecil, Zaenab, menderita kebocoran jantung. Namun husnudzon yang mutlak kepada-Nya dan kesabarannya berbuah manis. Ujian itu justru menjadi “wasilah” yang mengantarkan dia dan istrinya, Diah Rachmawati, ke Baitullah.

Setelah menjadi anggota DPR RI dan sesudahnya, saya jarang bertemu dengannya. Sering malah ketemunya di bandara. Terakhir bertemu di RM Salsabil Kaliwungu kepunyaan Mas Muchib, salah seorang alumni PII. Saat itu Zuber sudah menjalani cuci darah rutin. Belakangan saya kaget mendengar dia stroke dan terkena covid, dirawat di rumah sakit, dan akhirnya meninggal.

Selamat jalan sahabat. Kezuhudan, keteguhan, dan kesabaranmu adalah teladan bagi kami semua. Insya Allah kami akan segera menyusulmu dalam naungan takdir-Nya.

 

Tegal, 22 Juli 2021.