INSPIRASI DARI R.A. KARTINI UNTUK PEREMPUAN MASA KINI

img

Ilustrasi Kartini / Sumber: Pinterest.com

Oleh: Biro KPAK BPKK DPW PKS JATENG

 

Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan kaum perempuan pribumi. Beliau lahir pada 21 April 1879 M atau dalam kalender Hijriah, tanggal 28 Rabi’ul Akhir 1297 di Mayong, Jepara. Beliau masih merupakan keluarga bangsawan Jawa. Itulah sebabnya gelar Raden Ajeng disematkan padanya. Atas jasanya, setiap 21 April, rakyat Indonesia khususnya kaum perempuan memperingati hari Kartini dengan berbagai cara. Dan salah satunya yang sudah menjadi tradisi umum adalah dengan mengadakan kegiatan peringatan Hari Kartini. 

Dengan semakin meningkatnya kualitas kaum perempuan di Indonesia, Kartini berharap tujuan untuk mewujudkan kejayaan bagi bangsa ini akan bergerak lebih cepat. Kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi yang penting bagi Indonesia, yang dapat berkontribusi secara signifikan, sesuai kapabilitas dan kemampuannya.

Ada banyak hal yang bisa dipetik dari perjuangan Kartini. Hal-hal ini bisa dijadikan inspirasi dan motor penggerak bagi perempuan Indonesia. Kartini mewariskan karakter yang bisa menjadi modal bagi pergerakan perempuan Indonesia dalam ikut serta membangun bangsa.

 

  1. Mempunyai motivasi belajar ilmu agama (religius)

Kartini adalah seorang pemeluk agama Islam. Berdasarkan buku “Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini”, Th. Sumartana mengungkapkan pandangan Kartini mengenai agama terletak kepada keyakinannya bahwa agama itu bisa menjadi kekuatan pembaharuan masyarakat yang nyata.

Bunyi potongan surat kepada sahabatnya, Stella Zeehandelaar, seorang aktivis Belanda tertanggal 6 November 1899 sebagai berikut; “…Dan, sebenarnya saya beragama Islam karena nenek moyang saya beragama Islam. Bagaimana saya mencintai agama saya jika saya tidak mengenalnya?.... Kartini selalu mencari tahu berbagai hal yang tidak diketahuinya. Salah satu contohnya saat Kartini ingin mengetahui lebih dalam tentang makna Al-Qur’an. Pada saat itu Kartini hanya mendapatkan pengetahuan agama sebatas belajar membaca kitab suci Al-Qur`an tanpa tahu maknanya. Akhirnya, Kartini belajar agama kepada Kiai Shaleh Darat untuk memenuhi rasa ingin tahunya.

Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur`an ke dalam bahasa Jawa. Kyai Sholeh berhasil menerjemahkan 13 juz Al-Qur`an dan diberikan sebagai hadiah Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan juz selanjutnya karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

 

  1. Membangun Networking yang Luas

RA Kartini harus tinggal di rumah karena sudah dipingit seperti wanita lain di masa itu. Namun, Kartini pun tak punya pilihan. Untunglah dia memiliki sahabat di negeri Belanda bernama Rosa Abendanon yang bisa diajak bertukar pikiran selama dipingit. Selain kepada Rosa, Kartini juga memiliki sahabat lain di Belanda, di antaranya Stella Zeehandelaar, Ny.Cvink Soer, Ny.Van Kol, Tuan Van Kol dan Tuan E.C. Abendanon.

Dari sinilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Sejak saat itu timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi. Beliau memiliki ide untuk memajukan perempuan-perempuan Indonesia dari segala keterbelakangan.

Membangun networking seluas-luasnya itu teramat penting bagi semua orang karena akan mendapatkan ilmu dan pengalaman baru dari orang-orang dari berbagai latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Networking yang luas adalah wadah untuk mempresentasikan semua potensi dan kemampuan yang ada. Dari kemampuan di dalam diri tersebut, bisa menjadi value yang menguntungkan bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

  1. Memiliki semangat belajar yang tinggi melalui aktivitas literasi

Kartini sangat gemar membaca dan menulis. Kartini tidak hanya menulis untuk media massa, tetapi juga mengirimkan surat kepada sahabatnya yang berasal dari Belanda, seperti J.H Abendanon, Rosa Abendanon, dan Stella Zeehandelaar. Bahkan, Abendanon, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda mempublikasikan karya literasi kumpulan surat Kartini setelah beliau wafat. Buku tersebut diberi judul “Door Duisternis tot Licht” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kartini membuktikan bahwa dengan kemampuan menulis dan daya nalarnya yang kuat, beliau mampu menjadi bagian transformasi sejarah Indonesia.

Penguasaan literasi merupakan indikator penting untuk meningkatkan prestasi dalam mencapai kesuksesan. Literasi harus disadari sebagai salah satu modal utama dalam mewujudkan bangsa yang cerdas dan berbudaya. Survei Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara dalam penguasaan literasi. Padahal, budaya literasi bermanfaat dalam mewujudkan peran dalam aspek pembangunan negara.

 

  1. Menjunjung ilmu pendidikan dan pengetahuan

Kartini muda adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi ilmu pendidikan dan pengetahuan. Kartini menganggap bahwa tingkat pendidikan akan turut membangun tingkat kepercayaan dan keterbukaan diri terhadap hal-hal baru yang bermuatan positif. Namun, pendidikan Kartini sempat terkendala lantaran sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, meminta Kartini tidak perlu menimba ilmu tinggi. Hal itu yang membuat Kartini bersekolah hanya sampai usia 12 tahun. Beliau terakhir bersekolah di Europese Legere School. Dari sekolah inilah yang membuat Kartini mahir berbahasa Belanda.

Meski telah berhenti dari sekolah formalnya, Kartini tetap memiliki tekad bulat dan tetap belajar. Inilah yang membuat Kartini memiliki kapasitas intelektual dan wawasan yang luas. Kartini sering berkirim surat dengan teman-temannya di luar negeri untuk saling bertukar informasi. Kartini juga rutin membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa.

Pendidikan merupakan salah satu yang menjadi kepedulian utama Kartini untuk memajukan perempuan dan pribumi pada umumnya. Menurut Kartini, perempuan sebagai pendidik pertama berperan dalam pembentukan watak anaknya. Kartini berpendapat, membesarkan seorang anak adalah tugas besar. Pembentukan kepribadian manusia yang pertama dimulai dari rumah. Para perempuan sebagai calon ibu harus diberi semacam pendidikan dan pembinaan keluarga.

 

  1. Terlibat aktif untuk berkontribusi secara sosial

Secara umum, sejarah Kartini mengajarkan tentang gerakan sosial yang dikemas untuk berbuat dan menghasilkan sesuatu yang berbeda, lebih khususnya gerakan ini tertuju bagi kaum perempuan. Selama ini R.A. Kartini hanya diketahui sebagai pejuang emansipasi perempuan. Beliau jarang dilihat sebagai seseorang yang memperjuangkan masyarakat secara umum. Nyatanya, keprihatinan utama R.A Kartini juga tertuju pada nasib rakyat di tanah jajahan secara menyeluruh.

Keterlibatan perempuan menjadi syarat mutlak dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berkeadilan. Keikutsertaan perempuan untuk berperan di kalangan publik harus didorong. Yang masih perlu dipikirkan ialah kapabilitas dan kemampuan yang dimiliki.  Peranan yang dimainkan perempuan di sektor publik harus disertai peningkatan kapasitas dan kapabilitas diri sesuai dengan bidang yang dikuasainya masing-masing. 

Kartini masa kini adalah sosok kartini yang bisa memberikan inspirasi bagi perempuan lainnya, menjadi penggerak, teladan, dan tokoh bagi masyarakat sekitarnya.  Banyak sektor yang menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi bangsa ini untuk diperbaiki kondisinya. Tingkat kemiskinan masyarakat, ketegangan sosial dan politik, permasalah ketahanan dan keharmonisan rumah tangga, krisis ekonomi dan benturan-benturan budaya sehingga memunculkan berbagai macam konflik sosial.

Kondisi sosial ekonomi pasca pandemik covid 19 yang juga memprihatinkan dengan naiknya  angka pemutusan hubungan kerja dan penurunan pendapatan keluarga. Oleh karena itu, dibutuhkan peran-peran perempuan untuk meringankan beban bangsa ini. Peran perempuan dalam kehidupan sosial sangat besar artinya, seperti memastikan kondisi kesehatan keluarganya, hingga membawa perubahan sosial di lingkungan sekitar. Dimulai dari lingkungan sendiri, dari yang kecil, membantu yang terdekat untuk bangkit bersama-sama mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa ini.

 

  1. Berkepribadian Tangguh dan Mandiri

Ciri perempuan kekartinian adalah mandiri dan tangguh dalam segala situasi. Perempuan yang memiliki sifat mandiri cenderung mampu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa merepotkan orang lain. Mereka juga pantang menyerah dalam menghadapi hambatan hidup. Menjadi wanita yang mandiri dan kuat bukan berarti segala sesuatu harus dikerjakan sendiri.

Perempuan sejatinya adalah ibu generasi. Perempuan harus memiliki sikap mental yang tangguh supaya bisa mendidik generasi yang kuat. Segala perilaku dan perbuatannya akan berpengaruh pada peradaban. Generasi yang kuat menjadi modal bagi pembangunan yang sangat berharga bagi bangsa ini.

 

Mengingat jasa Kartini tidak sekadar membuat seremonial acara dengan semaraknya berbagai kegiatan dan perlombaan. Warisan pemikiran Kartini mendorong kaum perempuan agar lebih berperan sebagai agent of change dalam pembangunan bangsa.  Tanpa mengesampingkan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga bagi keluarganya, perempuan juga bisa memegang peran di berbagai posisi strategis.  Perempuan tidak boleh menyerah dan harus tangguh menghadapi tantangan kehidupan karena perempuan tangguh akan menghasilkan generasi-generasi yang tangguh. Semua perempuan Indonesia memiliki tugas berat menyiapkan generasi penerus yang unggul, harus tahu bagaimana cara membangun karakter, sosial ekonomi, dan sosial lingkungan hidup.

Semoga cita-cita dan semangat perjuangan Kartini dapat menjadi ruh keteladanan dan inspirasi kita semua dalam membangun bangsa Indonesia di masa mendatang. Perempuan sebagai anggota keluarga dapat menjadi agen perubahan yang aktif, kreatif, dan inovatif dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di masa kini, masa depan, dan yang lebih beragam.