img

Penyerapan Anggaran 2020 baru 29.3%, PKS: Kinerja Pemprov Belum Maksimal

img

Anggota Komisi C DPRD Jateng Riyono

Semarang, PKS Jateng Online - Ditengah pandemi COVID-19 yang membuat pondasi ekonomi di Jawa tengah goyah. Ekonomi hanya mampu bertumbuh sebesar 2.6%. Artinya pergerakan ekonomi di tengah masyarakat melambat, turunnya kinerja industri yang disertai melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jateng Riyono.

"Saat ini mencari sumber anggaran di luar APBD sangat susah, 91.7% masyarakat jateng hanya memiliki 1 sumber pendapatan. Pandemi ini menyebabkan aktifitas ekonomi melambat, pemerintah harus lebih agresif dalam belanja APBD" Ujarnya.

Riyono menyatakan kondisi saat ini memaksa rakyat dan pemerintah harus bekerja keras menghidupkan ekonomi. Karena lambatnya ekonomi ini berdampak pada naiknya angka kemiskinan.

"Jumlah rakyat miskin semakin bertambah, terdapat 4.020.056 juta masyarakat miskin per Juni 2020. Atau naik 340 ribu dari tahun 2019 yang berjumlah sekitar 3.68 Juta." Terangnya. "Kenaikan di kota 8.99% dan di pedesaan 12.80%, Ini berarti Kebijakan pemprov belum maksimal dalam menangani COVID-19" Tambahnya.

Riyono juga menyampaikan bahwa angka pengangguran di Jawa Tengah terus bertambah, selama februari 2020 terdapat sejumlah 0.80 juta atau 6.42% angka pengangguran. Ia mengkhawatirkan Pengganguran ini berdampak kondisi sosial yang menjadi rawan, mengingat Akumulasi orang yang terkena dampak PHK mencapai 52.450 orang.

"Kondisi ekonomi kita sedang sangat berat, pemprov harus segera menyegerakan belanja APBD untuk memberikan stimulan ke sektor swasta dan mengungkit perekonomian daerah" Pungkasnya.